Jadilah Sahabat Jogja Penatah Cinta
Dengan menjadi sahabat Jogja Penatah Cinta, Anda menunjukkan kepedulian Anda terhadap Jogja/Yogyakarta dan kebangkitan budaya Indonesia
Kumpulan Hati Manembah Sang Cinta, Bagian 58
Sampai di daerah Pura Pakualaman, kami belok masuk ke dalam, hati kami
dituntun oleh energi surgawi, untuk singgah menepi. Di halaman depan
Pura Pakualaman ini, sekarang banyak orang bertenda, berjualan makanan
dan wedangan. Pohon beringin besar di depan nampak tua dan
berwibawa, berselubungkan pendar cahaya bulan ditingkahi rintikan
hujan. Perlahan sepeda kuarahkan ke halaman itu, untuk istirahat
bersanding sepeda motor yang diparkir lebih dahulu.
Nyata Kuasa Maha Cinta, Bagian 57
Sambil asyik menikmati daya luncur sepeda yang kukayuh, tanganku
mengatur arah, mataku memandang suasana senja temaram menuju puncak
malam. Warta Pamarta nampak mulai banyak diam, Jogja di rintikan hujan
berbias kena cahaya lampu jalan, terlihat bagai pangeran tampan berbaju
salah pakaian. Keanggunan agung tata kotanya kini mulai banyak
terkikis, ketampanan ganteng legendanya sebagai kota budaya bisa
sebentar lagi habis, banyaknya baliho dan papan reklame, serta
munculnya gedung-gedung baru bermodal kaca juga bertingkat seperti
kandang burung, membuat hatiku miris, Warta Pamarta nampak sedih,
karena tahu indahnya Jogja kini bagai dikungkung tangis pengemis.
Kemutlakan Sang Maha Cinta, Bagian 56
Aku dan Warta Pamarta kembali lanjut cerita hati kami bergerak, dia
asyik bersiul melodi lagu “Kolam Susu”, sedang aku terasuki gerak
rohnya, aku menimpali bersiul kontra melodi yang kooperatif, meluncur
jujur di jalur nada bibirku. Maka gaya khas cantus firmus komposisi
Tony Koeswoyo, erat berpasang taut harmoni contrapunk ala Johan
Sebastian Bach, jadi kesatuan aesthetic dari dua gaya keindahan yang
berbeda, namun satu makna, karena pemahaman martabat seni hati nurani.
Saat ini juga, di atas luncur sepeda, aku dan Warta Pamarta menatahkan
pahatan ukir gerak inti rasa keindahan seni, mewujud rupa. Wujud rupa
dari keindahan terbentuk, karena sukma bathin kami memuja sembah Sang
Hyang Widhi Wasa, yang telah dan selalu menciptakan keindahan alam bumi
pertiwi.
Abadi Mutlak Karya Cinta, Bagian 55
Kami istirahat sambil menikmati minuman hangat, kerinduan kami akan kebangkitan nusantara dan Jogja meningkat, pada harum teh jahe hangat, rasa kami untuk berjuang kuat menanam-tumbuhkan, sampai menuaikan pertahanan budaya nusantara, mengikat dan jadi daya pikat. Di warung angkringan ini, hati kami makin gemas menguat. Beberapa anak muda, dengan kami tak jauh usia, dengan tingkah jauh dari santun budaya, tidak hormat kepada ibu tua sang pedagang makanan angkringan, membuat kami muak. Sekali lagi, saudara-saudara kita ini tengah menunjukkan kebodohannya, tidak pantas disebut orang modern, sebab budaya asli tidak nampak pada mereka.
