Di dapur kecil di beranda rumah eyang, uap teh gemulai mengitari wajah Mitha. Nampak di mataku, ia cantik tersipu, seperti bidadari yang dicuri pandang oleh Jaka Tarub ketika ia sedang mandi. Mitha, Nawangwulan-ku, hatiku danau tempatmu memandikan diri, cintaku terpaku pukau kemolekan kalbumu.

Lukisan Sepotong Kain Merah, karya Basuki Abdullah

Gemetaran kakiku, menata tegak standar penyangga scooter-ku. Bukan karena lelah, tapi oleh gemeretak sendi-sendi tubuhku yang digetarkan deras arus darah di buluh-buluh nadiku. Terakhir pertemuan kita, ketika engkau dan aku bernyanyi berpasangan, melodi nyanyian kita dipantulkan gema gedung-gedung kuno tua, di Austria. Suara harmoni orkestra kembali mewujud kudengar, ketika suara alunan gendhing karawitan yang kauputarkan, lewat seranta music player di beranda rumah eyang.

Gamelan Yogyakarta, karya Sugeng Harianto

Alunan gender yang ayu, mengalun merdu lewat mulutmu. Suaramu membuatku merasa melayang tak berpijak tanah, menawan hati kau berseru, "Galuh, kamu lelah ya... Ini teh kesukaanmu. Lama banget sih? Tapi asyik kok. Aku jadi deg-degan selama membuat teh wangi ini."

"Nggak apa-apa, tehmu pasti enak. Wangi tubuhmu ada di situ, kan?"

Ia gemas mencubit lenganku, ketika dengan lembut kukecup dahinya dan halus kuremas lentik jemarinya, lalu kami bergandengan tangan menuju meja tamu di beranda rumah eyang. Ramai celotehnya, lincah gerak wajahnya, surai-surai rambutnya yang panjang berayun tari di depan mata kijangnya. Kami akrab bercengkerama, selaku sepasang jiwa menghadirkan pertemuan kerinduan cinta, bagai anak kijang kembar di padang, memamah rumputan nestapa. Padang rerumputan cinta itu sepi dari nelangsa, karena tegarnya kerinduan kami akan harapan kebajikan selalu disediakan Sang Cinta, yang menggerakkan hati kami memamah nestapa untuk dirubah oleh rasa syukur, jadi ketentraman.

Di tiap bidang sudut ruang tamu rumah eyang, lukisan-lukisan sketsa penggambaran keanggunan agung, tata bangun tua gedung-gedung di pusat pesona Jogja, juga tata bunyi keselarasan gendhing karawitan yang kudengar, sama indah dengan pantulan kenangan Austria. Jogja kota leluhurku, Jogja asal darah dagingku, terima kasih, oleh karenamu, cinta kami dimatangkan.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com