Tulisan Batikan Cinta, Bagian 49

Jiwaku bermain-main di imajiner cita rasa. Jika saja hari ini Jogja tetap berani lebih utuh tampil sebagai kota berbudaya Mataraman Jawa Jogja, pasti banyak manusia manca negara berhamburan datang berwisata, terpikat bermain mata melihat keagungan budaya, dan batin mereka lincah menarikan keterpukauannya, ditawan agung kemilau budaya Jogja. Aku berpendapat, justru pada keunikan budaya Jogja, wisatawan datang bukan karena iklan, namun kenyataan kemandirian budaya Jawa Jogja, itulah yang mengundang. Pada daya pikat uniknya kesantunan budaya yang tak kehilangan perjalanan sejarahnya, arus kuat kedatangan wisatawan menunjukkan bahwa Jogja tampil berwibawa, karena pasar perekonomiannya berputar kuat di setiap strata sosial masyarakatnya. Bukankah itu hukum kenyataan, bahwa dalam keberagaman budaya tiap bangsa, terjadilah relasi, karena bangsa yang satu menarik pukau bagi bangsa yang lain?
Masih demikian kuat di ingatan kami, tiap hari kami harus makan dengan cara Eropa. Sebab di situlah daya tariknya, karena di sana makanan Jawa hampir dikatakan tidak ada. Sama juga ketika kemarin pagi Mr. Steve Michielsen amat senang sarapan dengan nasi lodeh dan tempe bacem. Dia bilang, sangat gembira menginap di rumah eyang, karena dia banyak kecewa di lain tempat di Jogja, ia selalu ditawari makanan Eropa. Tersirat dalam kata-katanya, ia datang ke Jogja untuk merasakan keunikan Jogja, yang harus berbeda dengan Eropa. Buat apa dia datang jauh-jauh ke Jogja kalau hanya sama dengan negara asalnya? Eyang, aku, dan Mitha, menghormati harapannya berwisata ke Jogja. Pagi ini saja Mitha pergi ke pasar, membeli gethuk dan jenang candhil untuk sarapan sahabat baru kami, Mr. Michielsen dari Denmark.
Wah, ngomong-ngomong, nanti aku harus ke rumah batik Tita. Soalnya, Mr. Michielsen udah pusing cari baju batik tulis bercorak Jawa di banyak tempat, tak tersedia.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Tulisan Batikan Cinta, Bagian 49


