Kekuatan santapan di kala sarapan bersama Mitha dan eyang, membuat aku Galuh Arjuna Indra Putra mapan meletakkan perasaan, mengikuti sifat penurut rohku kepada Roh Kehidupan. Di sini dinyatakan, sungguh roh itu penurut dan mampu memerintah kedaginganku untuk lebih tahu diri, taat kepada keharusan irama kehidupan. Bersamaan dengan kepulan asap dari rokok tembakau yang kuhisap, juga nikmatnya murni rasa kopi jawa, keindahan estetika rohku menghantarkan jiwa ragaku hanyut di pukauan pandang mata, melihat keindahan Jogja di masa silam. Album foto yang kubuka di ruang depan, bercerita tentang rangkaian kisah masa remaja eyang putri, dibingkai agung elok tata kota Jogja. Perasaanku bagai terbang kegirangan, karena di pesona gambaran panorama silam kota Jogja, tampilkan keindahan jati diri orang-orang Jawa Jogja pada itu masa, kental kuat tekstur budayanya, menghadirkan pribadi kuat sosok Jawa Jogja sebagai bangsa Nusantara.

Keindahan Jogja di masa silam

Jiwaku bermain-main di imajiner cita rasa. Jika saja hari ini Jogja tetap berani lebih utuh tampil sebagai kota berbudaya Mataraman Jawa Jogja, pasti banyak manusia manca negara berhamburan datang berwisata, terpikat bermain mata melihat keagungan budaya, dan batin mereka lincah menarikan keterpukauannya, ditawan agung kemilau budaya Jogja. Aku berpendapat, justru pada keunikan budaya Jogja, wisatawan datang bukan karena iklan, namun kenyataan kemandirian budaya Jawa Jogja, itulah yang mengundang. Pada daya pikat uniknya kesantunan budaya yang tak kehilangan perjalanan sejarahnya, arus kuat kedatangan wisatawan menunjukkan bahwa Jogja tampil berwibawa, karena pasar perekonomiannya berputar kuat di setiap strata sosial masyarakatnya. Bukankah itu hukum kenyataan, bahwa dalam keberagaman budaya tiap bangsa, terjadilah relasi, karena bangsa yang satu menarik pukau bagi bangsa yang lain?

Foto remaja eyang, dan upacara Gunungan Putri tahun 1888

Aku ingat, pada waktu aku dan teman-temanku berkeliling Eropa, kami semua kagum pada mereka, sebab mereka mempunyai keunikan budaya yang berbeda dengan kami. Justru di situlah diwujudkan nyata bahwa manusia dalam tiap bangsa mempunyai kehormatan yang sama, dikarenakan tiap budaya menampilkan keindahan hakiki jiwa manusia, satu sama lain jadi menarik, karena tidak sama. Mungkin keunikan tiap budaya seperti seorang laki-laki dan perempuan. Seorang perempuan akan menarik bagi laki-laki kalau tidak kelaki-lakian. Demikian juga seorang laki-laki bisa menambat jiwa perempuan, bila tidak keperempuan-perempuanan.

Masih demikian kuat di ingatan kami, tiap hari kami harus makan dengan cara Eropa. Sebab di situlah daya tariknya, karena di sana makanan Jawa hampir dikatakan tidak ada. Sama juga ketika kemarin pagi Mr. Steve Michielsen amat senang sarapan dengan nasi lodeh dan tempe bacem. Dia bilang, sangat gembira menginap di rumah eyang, karena dia banyak kecewa di lain tempat di Jogja, ia selalu ditawari makanan Eropa. Tersirat dalam kata-katanya, ia datang ke Jogja untuk merasakan keunikan Jogja, yang harus berbeda dengan Eropa. Buat apa dia datang jauh-jauh ke Jogja kalau hanya sama dengan negara asalnya? Eyang, aku, dan Mitha, menghormati harapannya berwisata ke Jogja. Pagi ini saja Mitha pergi ke pasar, membeli gethuk dan jenang candhil untuk sarapan sahabat baru kami, Mr. Michielsen dari Denmark.

Wah, ngomong-ngomong, nanti aku harus ke rumah batik Tita. Soalnya, Mr. Michielsen udah pusing cari baju batik tulis bercorak Jawa di banyak tempat, tak tersedia.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com