Aku teringat waktu aku berkunjung ke rumah Tita sahabatku. Pada waktu itu, ia menyambutku dengan kecantikan perempuan jawa, berkain batik tulis Sido Mukti Sringgit, ia tampil cantik legit. Di situ, pandangan mataku dikail pancing oleh jiwa budaya jawa, matang mengguratkan keanggunan asli, menitis pada batik tulis. Batik tulis, adalah gerak kemegahan dasar dari batin orang jawa yang bersahaja, menampilkan santun kematangan jiwa raganya. Hari itu, kepongahanku berbaju Dolce Gabana yang kubeli di Jakarta, luluh lantak dihalau ukiran bebatikan, menampilkan cantik Tita, bersalutkan batik tulis Jogja.

Batik tulis motif Garuda, dari Sido Mukti Sringit

Seperti indahnya batik tulis jawa, kota Jogja sesungguhnya kuat menyimpan banyak guratan sejarah, keindahan perjalanan cerita budaya Yogyakarta, menala pemahaman etika estetika hidup kesatuan bangsa, merangkumkan nusantara. Aku masih ingat pelajaran sejarah nasional bangsa kita, pada waktu perjalanan merintis hidup sebagai bangsa merdeka, secara nyata Yogyakarta sempat menjadi ibukota utama bangsa Indonesia. Kalau aku pikir-pikir, asyik ya, karena dari album foto eyang tentang silam kenangan Jogja, Jogja jauh lebih keren daripada Jakarta. Aku bisa bilang begitu, karena masa kanak-kanakku sampai remaja, aku banyak hidup di Jakarta.

Kemegahan Candi Borobudur dan Candi Prambanan

Aku bicara dan diskusi dengan diriku sendiri, ketika pada abad ke delapan, seputar daerah yang sekarang adalah Jogja dan Jawa Tengah di sekitarnya, sudah banyak tatahan tinggi budaya, di dalam era sejarah kerajaan di Jawadwipa. Candi Borobudur digubah oleh cita rasa agung manusia-manusia berbudaya dari Dinasti Syailendra, bersandingkan citarasa Rakai Panangkaran di wujud istana Ratu Baka. Demikian pula, tak lama kemudian Dinasti Sanjaya menuliskan gerak tarian jiwa mereka, menatah-bangunkan Candi Prambanan. Semua itu tadi ternyata peristiwa nyata, sejarah perjalanan Mataram Kuno, di sekitar tempat yang sekarang dikenal Mataraman Ngayogyakarta Hadiningrat atau Jogja.

Candi Ratu Boko, Yogyakarta

Untunglah aku punya hobi koleksi buku-buku lama. Banyak buku ayahku tentang sejarah bangsa yang aku simpan, dan kubaca berulang. Aku bahagia, banyak mengetahui rangkaian sejarah dari bangsa nusantara. Yang jelas sih, banyak anak seusiaku tidak tahu peristiwa sejarah bangsa kita, dan aku heran, di sekolah tidak banyak diajarkan. Wah, jauh banget ya, generasi ayahku banyak keunggulannya, karena tahu sejarah bangsanya. Padahal, dari pengalamanku sewaktu aku dan teman-teman tugas belajar ke Eropa, kami dicelikkan, bahwa bangsa-bangsa Eropa amat tahu dan paham sejarah kebangsaannya. Bukankah kalau tidak salah, pendapat dunia internasional, bahwa bangsa yang maju dan modern, adalah bangsa yang tidak kehilangan sejarah dan budayanya? Aku malu sekali pada diriku sebagai orang Indonesia, oleh karena itu semua buku sejarah dan budaya dari generasi ayahku dan generasi sebelumnya, baik-baik kusimpan, dan sering kubaca ulang.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com