Seiring dengan kepulan asap tembakau kedu utara yang keluar dari mulutku, kemudian bersambung rasa sedap nikmat kopi jawa di tiap tegukanku, suara Mitha meliuk gemulai, bagai selendang di tubuh
Nawangwulan sedang telanjang. Rambutnya gelombang berayun, meningkahi ceria mimik wajahnya, ketika bibirnya meluncurkan laguan nada kata-kata.
“Galuh,
nih eyang nambahi pisang goreng buat kamu!”
“Oke!
Thanks banget ya. Ngomong-ngomong, kamu udah mandi belum, Mitha?”
“
Udah.
Emang kenapa?” jawabnya.
“Soalnya aku belum lihat. Kalau aku udah lihat baru percaya. Pagi seperti ini, enaknya
kan menikmati keindahan kijang
kencana tubuhmu telanjang, bersiram air pancuran.”

Sengaja aku tekankan kata-kataku sebagai Arjuna, sebab aku sungguh kena sakit wuyung, karena pesona Mitha mengusir murung. Maka pagi ini, kuku jari Mitha menusukkan panah asmaranya di lenganku, menorehkan keriangan di hatiku. Aku rengkuh pinggangnya, kudekapkan mengkal dadanya, bersatu dengan degup jantung menggetarkan dadaku. Lalu kudaratkan hangat santun bibirku, mengecupkan rasa sayang pada kening di wajahnya, yang ditopang halus lehernya jenjang. Rupanya Bathara Indra menampilkan karunia pesona Swargaloka, bersinar melingkupi seluruh diriku sebagai Arjuna, hingga kenari di beranda rumah eyang berkicau riang dendang.

Angin pagi hilir mudik berdesir, harum wangian kembangan melati dan mawar di halaman depan, memacu mata hatiku cerah berbinar. Semburat sinaran bagaskara katon, takluk melaksanakan tugasnya, diperintah Bathara Indra. Bathara Surya menaburkan sinar ketaatannya, bumi nusantara Jogja, bergelimang terang tanah berhiaskan hijau tumbuhan, di taman depan rumah Eyang. Wajah bangunan jawa kolonial pada rumah eyang terlihat hebat memikat, putih kecoklatan dindingnya dibingkai warna tua kayu kerangkanya, panorama klasik seni keindahan tata bangunan. Aku lihat para pelancong wisata dari mancanegara yang menginap, memandangkan mata mereka kagum terkesiap. Sekali lagi kekuatan sejarah budaya Jogja menampilkan pesonanya, di rumah eyang para wisatawan mabuk kepayang.

Perlahan aku berjalan ke taman depan, sinar matahari berseni karya, menampilkan bayangan kakiku yang tengah menapak tanah, mewujudkan syukurku
istirah di Jogja, jadi renyah. Di rumah-rumahan bambu dan kayu beratap rumbia dekat beranda rumah eyang, kami sekeluarga dengan para wisatawan tamu, asyik berbincang. Gethuk dan jenang candhil memeriahkan pesta pagi sarapan, decak kagum hati tamu kami mewujud di tiap percakapan. Inilah asyiknya bila menginap di rumah eyang, apalagi kalau di seluruh Jogja sejarah tata budaya dijaga, akan banyak model seperti rumah eyang, sehingga wisatawan bergelombang datang.
Hai sekalian kamu yang tak pernah mau bangga dengan sejarah budaya Jogja, kamu sekalian akan terusir hengkang, karena kamu tengah menghinakan karya cipta sejarah perencanaan Ilahi, dan kamu akan mati sepi, sebab kehilangan jati diri.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010
JogjaPenatahCinta.Com