Karya tulis prosa liris mas Sugeng Waluya kembali menemaniku pada siang ini, setelah pagi tadi aku bersama eyang dan Mitha menemani para tamu berbincang, supaya ramah tamah di hati mereka sopan terjamah. Kini aku duduk di depan meja kamarku, mata dan hatiku hanyut membaca liris prosa, gambaran indahnya romantika silam Jogja, bagai gema merdu orkestrasi, mengiringi jiwaku bernyanyi dendangan nostalgi. Memang dalam dunia ini, ketetapan tidak pernah ada, yang ada perubahan. Karena itu, aku percaya bahwa masyarakat Jogja yang kini kurang optimal menjaga sejarah dan cagar budaya, dalam waktu singkat akan sadar dan berubah, itulah ketetapan mutlak hidup sebuah bangsa. Udara yang berhembus lewat jendela kamarku, menyambut sejuk doa harapanku, diwartakan keteduhan pemandangan taman kecil di muka jendela.

Taman kecil di muka jendela

Aku masuk dunia kenyataan hidup jiwa dan batin, aku tertidur dan mendapat karunia tersendiri untuk jiwa dan batinku, aku manis indah bermimpi. Dalam mimpiku, tengah ku berjalan-jalan menyusuri Jogja di masa silam, di situ banyak kulihat eloknya budaya etika busana dan tegur sapa, bagai agung misteri cinta surgawi mewujud di bumi. Di peristiwa ini, hingar bingar tak pernah tampil, namun ramainya kehidupan kala itu, seperti bunyian gending karawitan meningkahi kekidungan, bertutur alur merdu teratur. Pada itu masa, berbondong-bondong saudara kita dari mancanegara berkunjung wisata, karena Jogja sungguh masih kuat menarik pesonanya. Waktu itu dicanangkanlah gema pemahaman pada tiap orang, bahwa tugu monumen maha budaya ada di Jogja, mercusuar budaya nusantara. Kebahagiaanku di dunia mimpi ini, adalah kenyataan tersendiri yang kini jadi nostalgi, dan harus bangkit, dan memimpin kembali.

Tugu Jogja tahun 1928 dan Malioboro tahun 1948

Aku terbangun ketika jam dinding kayu tua berdentang sebanyak tiga, seolah eyang kakung yang membelinya, memerintahku untuk bangun segera, sebab waktu mulai masuk senja. Bergegas aku mengucapkan syukur, atas diperkenankan-Nya aku, tetap Beliau beri kekuatan hidup di sore hari ini. Aku teguk air bening dari teko tanah di meja kamarku, air kehidupan menuntaskan rasa dahaga, perasaan hatiku jadi lega, bersamaan dengan datangnya rangkaian kenangan di Austria. Suatu waktu, pada ketika Tuhan berkenan, memberkati kebangkitan kesadaranku akan menampilkan kembali keindahan budaya Jogja, bagai gayung bersambut, Mas Sugeng Waluya kuajak langlang berjuang. Keyakinanku begitu kuat, semua kontur indahnya budaya Jawa Jogja tidak kalah dengan Austria, bahkan punya keunikan keemasan pesona yang tak bisa ditandingi oleh lain budaya. Seluruh tubuhku bergetar hebat, harapanku berbuah lebat kuat semangat, aku dan semua orang Jawa Jogja harus bisa panen melimpah, karena bangun bangkit kemandirian Jogja yang kuat padat budaya, akan memanggil berlimpah ruah samudera jiwa orang berkunjung wisata.

Gamelan Yogyakarta dan Yoko Group chamber orchestra


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com