Menur atau melati, rosa atau mawar, juga adenium berkembang merah muda, mengangguk-angguk diayun angin menjelang senja, lalu aku tertawa, percikan air membasahi muka, ketika asyik kusiram bebungaan tadi dengan segar air. Aku harus hormat kepada mereka para tumbuhan, yang hidup menghias tanah negeri ini, dengan kekuatan hidup Sang Cinta, yang menghidupi semua makhluk di tanah pertiwi. Aku memahami hal ini dari ayahku yang seorang tentara, dia mendapat pengetahuan etika hidup ini dari ibunya, eyang Wara Ratu Pangastuti, maka aku pun terberkati, untuk mengerti paham menghormati negeri ini. Aku sering berperang pendapat dengan teman-temanku, tentang rasa hormat syukur mempunyai negara ini. Rupanya Sang Hyang Widhi berkenan, akhirnya teman-temanku paham dan penuh hormat. Bagiku mereka hanyalah korban dari keliru pemahaman, karena orangtua mereka tidak sadar untuk menanamkan pengertian hormat kepada tanah Nusantara. Sementara orangtua mereka adalah juga korban dari penipuan pengajaran, makna kehidupan bersandar pada uang. Eyang Wara Ratu Pangastuti selalu memberi pengetahuan pemahaman, bahwa uang itu ada karena kita hidup, jadi hidup bukanlah karena uang. Beliau dengan tegas mengatakan, uang ada terwujud karena kita hidup. Uang tidak bisa membuat hidup, namun hidup bisa membuat uang.

Selesai mandi sore, aku memakai baju surjan peranakan, duduk di beranda depan. Kurokok tembakau Kedu Utara berkepulan, Mitha dan Warta Pamarta menemaniku berdampingan. Menjelang akhir senja ini, kami akrab, masing-masing mendekatkan diri, ngobrol bincang masalah pencerahan hati. Kami saling berbagi cerita pengalaman perjalanan hidup kami, dan ternyata kami beruntung, karena terdidik dari kecil, memahami inti hidup spirituil yang menguasai lalu menata, hidup ragawi dan materiil. Maka misteri perbincangan sore ini bermahkotakan hidup batin yang riil, ketika nurani eyang membuat-hantarkan nasi goreng, sebagai santapan senja. Di situlah kembali dinyatakan, kita bukan robot, karena yang memprogram semua gerak acara adalah sebuah sistem theokrasi, atau kuasa Allah. Maka sudah layak dan sepantasnya, kita tidak terikat mati dengan sistem kaku analogi manusia. Karena manusia mana pun, tidak punya kuasa penuh untuk mengatur dirinya sendiri, menurut kemauannya, apalagi mengatur manusia lainnya. Semua martabat manusia adalah sama bermartabat, strata keunikan tiap orang, adalah supaya hidup sosial berinteraksi indah, mewujudkan gerak kehidupan bersama. Kalau kita renungkan, ternyata kita bukan makhluk individual, namun kita makhluk spiritual sekaligus sosial. Kan sudah nyata, tidak seorang pun lahir dari batu, namun karena interaksi sosial sepasang manusia berkasih-kasihan. Lalu kemudian, Tuhan berkenan memberikan berkat kehidupan kepada kasih manusia berpasangan, lelaki dan perempuan, maka lahirlah manusia baru dalam kehidupan.
Sewaktu aku Galuh Arjuna Indra Putra, Mitha, dan Warta Pamarta mengunyah santapan nasi goreng di senja ini, hidup ragawi kami dicukupi daya lagi, dengan makan nasi. Coba kalau kami menelan rupiah, dollar, dan ringgit, maka kami pasti segera mati. Pada waktu kami mengunyah nasi goreng ini, sudah amat pantas kami harus menyadari, bahwa kami hidup di negeri yang harusnya kaya padi. Semua orang juga tahu, nusantara ini tanah yang amat baik kesuburannya, maka kalau dikelola dengan arif bijaksana, kita punya gudang pangan dunia. Maka dunia mancanegara akan berhubungan dengan kita, karena harus berbagi kepentingan. Kita akan menentukan nilai tukar dalam lambang uang, karena kita yang punya barang pangan.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010
JogjaPenatahCinta.Com