Aku dan Warta Pamarta pergi berkendara sepeda, berboncengan jiwa dan raga kami, berdua roh kami bersinergi kerja, karena punya penghayatan rohaniah yang sama. Gazelle seri 11 yang menyandang gearbox sturmey archer berdecik-decak, aku dan Warta Pamarta gembira ria nikmati senja, berputar keliling kota dengan hati semarak. Senja ini, Galuh Arjuna Indra Putra, anak perwira tentara, membawa dengan girang Warta Pamarta, anak petani dari desa. Kami berdua bagai pasangan tepat guna, seolah sepucuk senapan dan pelurunya. Kenapa harus begitu? Karena senapan dapat menyalak menembak musuh yang jadi sasaran, kalau ada peluru yang harus dilantakkannya. Peluru bisa meluncur dan tepat membinasakan pongahnya musuh, kalau ada senapan yang menuntun dengan bidikannya. Sang penembak, yang merancang ketepatan guna menembus arah sasaran, adalah sosok jiwa ksatria bijaksana, yang menyandang gelar sikap perwira utama.

Garand

Warta Pamarta sahabatku, ia seorang sutradara film bermutu cerita, ia berhasil menjuarai pesta film tentang etika budaya nusantara di Eropa, namun hampir tiap pagi sampai siang, ia tetap bertani pepadian jawa di lahan pertaniannya. Aku sungguh bangga padanya, karena pemahamannya akan santun nilai hidup, yang harus tetap ia wartakan sebagai pamarta. Ia pamarta, pembawa berita sukacita bagi kawula muda, pada waktu ia sungguh kuat bertani di desanya, meskipun filmnya berhasil menembus Eropa. Aku bangga memboncengkannya, sama seperti dia, aku Galuh Arjuna Indra Putra sangat percaya diri, dan bangga hidup di negara agraria. Rupanya, aku dan dia sudah sampai pada fase sebagai orang modern yang nyata, karena kami punya pengalaman di mancanegara, waktu kami bertugas wisata. Kami lihat di sana ada dokter, ada ahli musik, ada ahli sejarah, ada ahli perdagangan, yang ternyata mereka semua juga ahli bertani dan menguasai pertanian. Mereka punya kesadaran yang harus kita tiru dan kita laksanakan, yaitu kesadaran pertahanan pangan. Kesadaran mereka begitu mendasar, yaitu negara tanpa kekuatan pertahanan pangan, adalah tak bisa dikatakan sebagai negara. Masyarakat mereka pun menyambut riuh semangat itu, para insinyur sipil membuatkan tata bangun sistem pengairan, para insinyur mesin mewujudkan bantuannya membuat sistem mesin untuk menyimpan-awetkan bahan pangan. Kami berdua sering berbicara kata hati yang kecewa, di nusantara ini anak petani kalau sudah kuliah, lalu malas bertani, itu menunjukkan betapa mereka sama sekali tidak modern dan kehilangan jati diri.

Western woman is farming

Barangkali semakin mereka banyak menonton layar kaca di rumah, mereka semakin mendapat kedunguan melimpah, dan ketika mereka kuliah, pikiran mereka menuai kepalsuan indah. Oleh karena itu, saking kesalnya Warta Pamarta kemarin pernah membuat sajak kata hati, yang kemudian ia bawakan kepadaku, untuk kugubahkan melodi menjadi musik komposisi pertiwi.

Dekat simpang tugu kami berhenti, ia berkata, “Mas Galuh, ingat waktu kita berhenti di Mozartplatz? Ingat nggak, waktu kita betul-betul terpesona melihat mereka orang Eropa, ada dokter, ada insinyur, ada ahli ekonomi, dan lain-lain, mereka dan kita nonton orkestra bersama. Sebelumnya kan ada dinner bersama. Waktu itu kita dibikin takjub, ketika kita boleh berbicara dengan mereka, mereka cerita kalau pada saat tak terlalu penting, mereka asyik tekun bertani di ladang-ladang mereka. Masih ingat kan, ekspresi wajah mereka yang gembira ketika mereka bercerita, bagaimana senangnya di ladang, mereka bertani menyediakan pangan negaranya.”

Young farmers

Aku mengangguk dan diam, pertanda aku setuju pada kesan pendapatnya. Warta Pamarta bukan sembarang sutradara, filmnya agung nyata bercerita kasat mata, karena dia bangga tetap menjadi petani di desanya. Itu wujud syukurnya kepada Allah SWT, sebab lahir sebagai Anak Nusantara.

Pemuda Indonesia bercocok tanam


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com