Abadi Mutlak Karya Cinta, Bagian 55
Kami istirahat sambil menikmati minuman hangat, kerinduan kami akan kebangkitan nusantara dan Jogja meningkat, pada harum teh jahe hangat, rasa kami untuk berjuang kuat menanam-tumbuhkan, sampai menuaikan pertahanan budaya nusantara, mengikat dan jadi daya pikat. Di warung angkringan ini, hati kami makin gemas menguat. Beberapa anak muda, dengan kami tak jauh usia, dengan tingkah jauh dari santun budaya, tidak hormat kepada ibu tua sang pedagang makanan angkringan, membuat kami muak. Sekali lagi, saudara-saudara kita ini tengah menunjukkan kebodohannya, tidak pantas disebut orang modern, sebab budaya asli tidak nampak pada mereka. Kekurang-ajaran mereka menegur ibu pedagang yang tua dengan nada tanpa tata budaya, mereka tampil sebagai makhluk pra-sejarah, seharusnya tak pantas hidup di Jogja. Dan anehnya, kami dengar mereka merasa sebagai artis, karena habis berlatih band dan bermusik. Kasihan ya, banyak orang sekarang tidak tahu arti makna dari kata “artis”, membuat hati kami menangis, tampak mata kami saling pandang miris.
Aku dan Warta Pamarta sudah cukup lama, lebih dari sepuluh tahun, menekuni menghayati dunia seni, kami belum pantas dipanggil artis, karena masih jauh kemampuan menggubah karya seni yang sungguh estetis. Bukankah arti kata “artis” adalah penganut seni atau seniman? Seharusnya seorang seniman mutlak berkaca kepada Beliau, Sang Maha Seniman, Allah sendiri. Maka karya gubahan seni dari seorang artis atau seniman, juga pantas dikatakan karya seni, ketika karya tersebut menggerakkan hati nurani insani, untuk semakin mencintai indah hidup di bumi, dan tidak menyembah serta mencintai diri sendiri. Seseorang yang mengaku seniman namun karyanya hanya untuk dipahami dirinya sendiri, ia menjadi kaum senewen di bumi.

Seorang Basoeki Abdoellah, Rembrant, Beethoven, Ranggawarsita, Ismail Marzuki, John Lennon, Shakespeare, Ki Nartasabdha, dan juga Pavarotti, sampai hari ini semua dunia tahu karya gubah mereka, tak lekang waktu, abadi, dan selalu trendi. Gesang, Tony Koeswoyo, Bing Slamet, Slamet Rahardjo, A. Riyanto, Eros Djarot, dan Chrisye, mereka pun sudah menunjukkan keabadian karya gubah mereka, selama puluhan tahun tetap digemari. Namun juga keindahan seni gubah komposisi Wage Rudolf Supratman, mutlak disebut karya seni abadi, tanpa beliau Indonesia tidak bisa dikenal di PBB, bila Indonesia tidak mempunyai lagu kebangsaan yang mandiri. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mawas diri ketika kita menggeluti dunia seni, supaya satu saat, masyarakat menyebut kita seniman, karena karya gubah kita menggerakkan keindahan di hati tiap insan, dan membuat agung makna hidup masyarakat, sehingga abadi dan patut dikenang, tak pernah hilang. Aku dan Warta Pamarta, dalam peristiwa ini, didewasakan untuk merenungkan, supaya makna seniman hidup membentuk hati kami, untuk mengabdi kepada Yang Maha Esa, melewati pengabdian kami menghadirkan sosok indah negeri ini.

Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Abadi Mutlak Karya Cinta, Bagian 55


