Aku dan Warta Pamarta kembali lanjut cerita, hati kami bergerak, dia asyik bersiul melodi lagu “Kolam Susu”, sedang aku terasuki gerak rohnya, aku menimpali bersiul kontra melodi yang kooperatif, meluncur jujur di jalur nada bibirku. Maka gaya khas cantus firmus komposisi Tony Koeswoyo, erat berpasang taut harmoni contrapunk ala Johan Sebastian Bach, jadi kesatuan aesthetic dari dua gaya keindahan yang berbeda, namun satu makna, karena pemahaman martabat seni hati nurani. Saat ini juga, di atas luncur sepeda, aku dan Warta Pamarta menatahkan pahatan ukir gerak inti rasa keindahan seni, mewujud rupa. Wujud rupa dari keindahan terbentuk, karena sukma bathin kami memuja sembah Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah dan selalu menciptakan keindahan alam bumi pertiwi. Oleh karena itu, meski sampai saat ini banyak manusia Indonesia yang terjebak pola salah pikiran dan merusak tata alam Nusantara, Allah menciptakan banyak kelahiran anak-anak indigo, mewujudkan bahwa tata alam karya Beliau absolut.

Indigo children

Anak-anak indigo ini banyak sekali dan seusia dengan kami, mereka sering berkomunikasi dengan kami, karena salah satu dari kami, Warta Pamarta, satu jenis dengan mereka, sedang aku - Galuh Arjuna Indra Putra, roh, jiwa, dan ragaku, dicipta-Nya berkilat kristal, supaya aku dan mereka hidup hanya untuk-Nya. Kami memahami keindahan sejati adalah Allah sendiri, tugas kami adalah mengabdi kepada Dia, dengan menghadirkan keelokan gerak jiwa raga kami dalam gubahan seni, mengajak banyak jiwa untuk datang dan patuh menyembah keindahan-Nya. Kami tidak pernah merasa hebat, dalam segala hal kami harus patuh kepada kemutlakan kebijaksanaan-Nya. Meskipun kami dilahirkan melewati keluarga-keluarga berbeda agama, kami sangat toleran dan kooperatif, karena kami paham, di tiap agama, kebenaran Ilahi bertahta.

Crystal child and Arjuna

Seperti saat ini, sambil kami berboncengan dengan sepeda, teman-teman kami para golekan kencana berlari baris tak kasat mata, puluhan ribu roh mereka mengawal kami menyatu bersama angin, gerak tanah bumi, sinar bulan malam ini, dan rintik air brajamusti dari langit. Sementara itu, para malaikat perang surgawi dan para leluhur kudus bangsa ini, melingkup lindung dan bertempur bersama kami, meluluh-lantakkan semua energi negatif, hingga musnah dan sirna dari negeri ini. Itu semua bukan karena kehendak kami, melainkan kehendak Ilahi yang memerintahkan kami, oleh karena ketetapan kebijaksanaan Beliau tak bisa dirubah oleh siapapun juga di jagad raya semesta dan bumi. Teman-teman kami adalah manusia istimewa karya agung Kanjeng Pangeran Gusti Allah, berasal tinggal dari berbagai tempat daerah, namun juga dapat bersama kami di satu tempat untuk bersatu gerak, itu pun kemutlakan karya cipta Tuhan kita, tidak bisa ditolak. Hai sekalian kamu yang mengabdi kepada kepentingan diri dan menyembah kejahatan, kesaktian kalian tak ada guna, karena negeri ini menjadi selamat oleh karena kemutlakan kebijaksanaan ketetapan Tuhan sendiri!

Hujan brajamusti


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com