Sambil asyik menikmati daya luncur sepeda yang kukayuh, tanganku mengatur arah, mataku memandang suasana senja temaram menuju puncak malam. Warta Pamarta nampak mulai banyak diam, Jogja di rintikan hujan berbias kena cahaya lampu jalan, terlihat bagai pangeran tampan berbaju salah pakaian. Keanggunan agung tata kotanya kini mulai banyak terkikis, ketampanan ganteng legendanya sebagai kota budaya bisa sebentar lagi habis, banyaknya baliho dan papan reklame, serta munculnya gedung-gedung baru bermodal kaca juga bertingkat seperti kandang burung, membuat hatiku miris. Warta Pamarta nampak sedih, karena tahu indahnya Jogja kini bagai dikungkung tangis pengemis. Aku heran, di sini kan ada perguruan tinggi yang menyediakan program studi mengenai arsitektur, alangkah baiknya sebagai orang modern, mau mempelajari estetika native architecture yang bisa menambah hias tata kota Jogja, bukan sebaliknya, malah merusakkannya. Kalau cuma bikin gedung sembarangan kan nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, sayang gelar kesarjanaannya karena tampil durjana. Suatu saat aku percaya, akan ada perubahan ke arah baik, karena kemarin aku lihat di siaran TV, anak-anak tingkat SD sampai SMA mulai digerakkan kembali menekuni paham keindahan seni. Sayangnya berita itu kok hanya ada di TVRI, sedang televisi lainnya tidak menampilkan diri sebagai televisi anak bangsa, yang harus bangga dengan budaya Nusantara. Apa ya nggak sadar, semua iklan produk di televisi mereka, sebagian besar bahan produknya diambil dari tanah pertiwi ini, negeri kita sendiri. Tapi aku bangga kok, karena TVRI tetap punya kesadaran sebagai televisi Republik Indonesia. Rupanya puluhan ribu temanku penghayat alami kehidupan spirituil, yaitu para indigo, sudah mulai giat bekerja doa, menata suasana negara, tak bisa dibendung karena mereka hanya menaati kehendak agung Sang Maha Pencipta.

Stairway to Heaven

Aku dan Warta Pamarta sekarang ini sedang bekerja doa, bersama dengan semua sahabat kami, meski pada umumnya manusia tidak bisa memahaminya. Kalau saja mereka tahu, mereka akan malu sendiri, karena pekerjaan dalam doa kami adalah jujur untuk menolong mereka, supaya keluar dari permasalahan hampa hidup di dunia. Kehampaan hidup di dunia disebabkan karena manusia ingin mengatur hidup menurut otak mereka, mereka tidak sadar bahwa karena ada kekuatan hidup itulah, otak mereka bisa bekerja. Jadi, disini dinyatakan, yang rohani atau spiritual itulah kekuatan tertinggi yang memimpin hidup ragawi manusia, di dalamnya termasuk pikiran. Dalam kedokteran juga diketahui, bahwa ketika sperma bersatu dengan sel telur melewati sebuah perkawinan antara laki-laki dan perempuan, selang beberapa waktu, persatuan tadi membelah dan membelah terus-menerus, sampai menjadi janin, kemudian menjadi bayi, lahir di bumi. Pada waktu proses pembelahan sel tadi, kan belum ada otak? Di situ dinyatakan, ada kecerdasan yang menggerakkan, yaitu roh. Jadi disini dinyatakan, kecerdasan roh itu yang membuat wujud ragawi manusia, di dalamnya termasuk otak. Lucu ya, kalau orang-orang pengen memahami makna hidup hanya dengan otak, sebab otak hanya alat untuk mengejawantahkan kecerdasan spiritual. Padahal banyak aspek makna kehidupan yang belum bisa dipahami logika manusia, mereka selalu mencoba memahami hal yang misteri dengan paradigma akal, padahal membuat otaknya sendiri saja tidak bisa. Kalau segala hal harus masuk akal, maka orang tersebut bisa disebut tidak punya akal, karena tindakannya tidak masuk akal. Mau ketemu Tuhan kok pakai otak, memangnya Tuhan lebih bodoh daripada manusia? Itulah manusia yang tidak bisa menempatkan akalnya, meski punya otak. Mungkin otaknya sedang mengalami dislokasi, karena tidak berada di mustaka-nya, tapi pindah ke bawah tumitnya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com