Kumpulan Hati Manembah Sang Cinta, Bagian 58

Ketika aku dan Warta Pamarta sedang berjalan dari tempat parkiran sepeda, tiba-tiba kami merasa ada beberapa mata bathin sedang kuat mengamati kehadiran kami. Kami langsung tahu, sebab kami punya kesamaan gelombang bathin sejak kami lahir. Ada tujuh orang yang rekat mata bathin mengamati kami berdua, sekuat daya bulan bercahaya menembusi malam hujan. Pada waktu kami semakin mendekat, salah seorang dari mereka berdiri, menyambut dengan salam hangat seseorang berwatak ksatria.
“Halo, Galuh! Apa kabar? Baru aja kubathin untuk kita bisa ketemu. Ini siapa? Kayaknya sih teman kita juga ya?”
Aku berpantul menyahut, “Selamat malam, Dok. Aku juga tadi baru mbathin. Ini kenalin, teman kita yang baru. Namanya Warta Pamarta.”
Maka Jaka Satria Sriwedari berjabatan tangan dengan Warta Pamarta, dari mata mereka dapat kulihat hati mereka saling menambat. Maka perkenalan ini berlanjut ketika secara bergantian teman-teman Dokter Jaka juga saling berjabat tangan dengan kami. Dengan kehadiranku dan Warta, jumlah kami yang duduk di meja kayu di pojok warung wedangan, jadi komplet sembilan. Malam ini kembali lagi dinyatakan, bahwa di Jogja banyak anak beraura biru keunguan, yang mencari dan menanti kedatanganku dan Warta. Di dalam tata pembicaraan yang langsung indah memikat di antara kami, semua berbicara tentang keindahan inti kehidupan, yang harus diwujudkan di Jogja dan Nusantara, itu semua hanya karena memang kami menurut kebijaksanaan-Nya, telah Ia rancang.

Secara bahasa umum, kami tidak perlu saling mencocokkan, karena kami sangat menghargai keunikan dan perbedaan, sebagai pengabdian menyembah kepada Tuhan. Tidak seorang pun dari kami yang pernah belajar bermeditasi, tapa brata, menyepi, berkeliling mencari pusaka wesi aji, senyatanya kami hanya mengakui perlu akan Sang Ilahi. Oleh karena itu, semua dari kami tidak bisa terjebak dalam paham kadigdayan kanuragan, sebab kekuatan terbesar di seluruh jagad ialah merasa bukan siapa-siapa, dan tidak tahu segala, maka kami hanya manembah sembah Sang Cinta, Allah sendiri. Ketika kami diperkenankan mengetahui segala hal yang tidak dipahami orang pada umumnya, kami tidak merasa istimewa, namun terpacu untuk menata paham dunia manusia, jadi masuk manusia dunia baru. Dunia baru itu adalah manusia berbudaya etika yang adi luhung, berpijak pada jujur hidup kebathinan, patuh kepada Tuhan, tidak ada pamer kadigdayan, karena itu menyembah kejahatan.
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Kumpulan Hati Manembah Sang Cinta, Bagian 58


