Jaka Satria Sriwedari - sang dokter gigi, Warta Pamarta - sutradara sinematografi yang ahli bertani, aku Galuh Arjuna Indra Putra - pencinta musik berseni sekaligus penekun dunia informasi teknologi, bagai melodi dibungkus contrapunk, selaras dan harmoni. Oleh karena tingkah kami bertiga, teman-teman di sekitar kami ikut menanggapi bersikap mendengar mencari arti. Pembicaraan kami tidak pernah lepas tentang pertahanan bumi Nusantara, hendaknya berpijak pada tiga kebijaksanaan nyata, yaitu pertahanan budaya pangan, pertahanan budaya laku, dan pertahanan teritorial. Pertahanan pangan harus dikuat-pahamkan untuk kembali membudidayakan tanaman pangan asli tanah negeri ini, karena dengan pola tanam yang baik, tanah terjaga tetap penuh mineral gizi, tanaman pangan asli menjadi sumber daya kekuatan kesehatan anak-anak negeri. Pertahanan budaya laku sebagai bangsa yang kaya aneka etnik, menampilkan kepercayaan diri sebagai bangsa yang kuat jati diri, sehingga setara berdiri sama tinggi dengan lain negara. Dalam kesadaran menggerakkan wujud budaya di kehidupan keseharian, akan banyak muncul anak-anak bangsa Nusantara yang berani observasi di segala segi, untuk melesat menjadi bangsa yang sungguh moderen, karena percaya diri untuk bisa sama hebat di segala bidang dengan para tetangga luar negeri.

Pertahanan teritorial meliputi keseluruhan pertahanan pangan dan budaya laku, sebab semua wilayah kedaulatan berbangsa, dengan sungguh dijaga, semua sumber daya alam menjadi tepat guna, menyejahterakan kualitas hidup rakyat masyarakat nusantara. Sudah menjadi suatu keharusan kekuatan tentara darat, laut, dan udara, adalah sakaguru menopang hukum tatanegara. Hukum tatanegara dan tentara bagai senapan dan pembidik, membuat tepat sasaran kebijakan sipil, haruslah mengacu kepada pertahanan keamanan negara. Pada kekuatan pertahanan dan keamanan negara, kita menjadi bangsa yang merdeka, untuk meraih masa depan gemilang.

Nasi, jagung, dan ubi, tanaman pangan asli tanah Indonesia
TNI AD, AL, AU Republik Indonesia manunggal

Seperti dipicu semaraknya pembicaraan kami, hujan melebat dan petir menyambar, menandai sedang terjadi pergolakan bathin para indigo di seluruh negeri. Maka malam ini dengan lantang menyerukan sedang terjadi perubahan, semua energi negatif tengah berurutan terbalik jungkir luluh lantak, ditandai kami dengar suara gemuruh Gunung Merapi sudah bosan menahan diri. Gelegarnya menggetarkan tanah, kemarahannya membuat suhu udara memanas, karena kelestarian cantik alam sekitarnya, oleh orang-orang serakah sudah sering dilibas. Semua ini terjadi karena ketetapan tak berubah Sang Ilahi, yang selalu positif dan terus positif. Beliau menciptakan bumi ini dengan penuh kebajikan yang Maha Kudus, maka ketika karya maha sempurna ini dirusakkan oleh kebanyakan orang, sudah menjadi kemutlakan, Beliau pun menata ulang, seperti pertama kali Dia ciptakan, adalah sempurna dan baik adanya. Kita sering mengatakan itu bencana, sebab kita mau mengkondisikan alam semau kita. Namun sesungguhnya yang sering kita anggap bencana, sebetulnya adalah ketetapan Tuhan menata ulang, untuk sempurna seturut kehendak Beliau, ketika sediakala mencipta.

Halilintar dan Malaikat Mikael menumpas iblis

Aku, Warta Pamarta, Jaka Satria Sriwedari, juga kawan-kawan, saling berpandangan mata, dan dengan tenang tangan-tangan kami membereskan piring gelas dan makanan, di warung depan halaman Pakualaman. Kami tidak panik, sebab kami menyadari keputusan Ilahi selalu apik, namun kami pun harus bersikap apik, untuk memahami kepanikan orang-orang di sekitar kami. Ada yang saking takutnya jadi terjatuh dari kursi, sementara yang lainnya terpelanting karena berlari pontang-panting, ada pula yang diam bagai dipaku rasa takutnya. Maka dengan penuh rasa haru tanpa perintah ataupun basa-basi, kami masing-masing datang melakukan pertolongan serta penghiburan, paling tidak kami bisa memberi rasa tenang.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com