Aku Galuh Arjuna Indra Putra, Warta Pamarta, dan Jaka Satria Sriwedari, kami satu kendaraan dalam mobil milik dokter gigi Satria Sriwedari, setelah tadi aku dan Warta Pamarta singgah pulang mengistirahatkan sepeda di rumah eyang. Jaka Satria datang menyusul kemudian, sempat matanya mencuri pandang, ketika Mita seorang, menjamukan wedang. Inilah wujud peristiwa gembira, bahwa Tuhan berkenan memberikan cinta-Nya kepadaku, lewat langsing tubuh serta jenjang leher menopang wajah ayu Mita, yang memanah hatiku hingga jatuh rasa cintaku padanya. Sikap Jaka Satria sebagai priyayi jawa Jogja, amat sopan diwartakan dengan injakan kakinya pada jempol kakiku, serta senyumnya menyampaikan ikut senang karena aku punya pacar seperti Mita si Nawangwulan. Dalam hatiku berseru penuh rasa syukur, "Makasih ya, Mita, kamu membuat aku bangga karena dikau ternyata jadi pukau kekaguman banyak temanku."

Hati kami malam kelabu, jalan-jalan di kota Jogja berhamburan abu, motor berhamburan tak cantik terkendali, karena pengemudinya dimabukkan ketakutannya.

"Mas Galuh, coba lihat, banyak orang takut akan kematian, ya! Kalau dipikir-pikir lucu, ya! Bukankah kematian kita adalah pintu gerbang perjumpaan dengan Tuhan?", tiba-tiba si dokter gigi nyeletuk.

Pintu gerbang Surga. © virginiarailingandgates.com


"Seharusnya, kita patut menanti kematian kita dengan gembira, ya! Mau ketemu Tuhan kok takut! Harusnya kan senang, tandanya tugas kita hidup di dunia sudah selesai masa." Warta Pamarta membalas ringan bicara.

Aku memandang kepada wajah mereka, nampaklah ringan teduh mimik wajah mereka, tidak satupun menampakkan kekhawatiran di dalam hati mereka. Sudah cukup lama aku mengenal mereka, dua orang ini adalah pribadi-pribadi sederhana, yang selalu berusaha maksimal menolong orang di kala susah, walaupun mereka sering disakiti khianat, namun mereka pernuh hikmat menghadirkan kebaikan dengan rasa hormat. Manusia berpribadi seperti mereka ini amat sungguh dirindukan negara kita, yang sedang bergeliat mengharapkan perubahan kesantunan kebangsaan yang semakin menguat.

Barangsiapa takut kehilangan nyawa, ia akan kehilangan nyawanya. Barangsiapa kuat kekhawatirannya, ia akan menghianati iman kepada Tuhannya. Barangsiapa takut kelaparan, ia akan kelaparan, karena mengumbar cinta dirinya. Barangsiapa merasa sempurna, ia akan ketakutan menanti kematiannya, karena bersandiwara terhadap Tuhan dan sesamanya. Barangsiapa rajin berdoa untuk dilihat orang, ia akan kehilangan berkat damai dari Tuhannya. Namun barangsiapa merasa paling berdosa, ia akan mencari Tuhannya dan berusaha mengabdi kepada-Nya. Orang yang tidak merasa sempurna, dia akan berjumpa kesempurnaan sejati, yaitu Allah sendiri.

Sambil menghisap tembakau kedu utara dengan merdeka, sebab jendela mobil dibuka, maka asap tembakauku kawin mawin dengan kepulan rokok yang dihisap Warta Pamarta dan Jaka Satria Sriwedari. Sekarang ini, ruangan mobil seakan sebuah kuil yang sedang didupai, karena kami bertiga selalu merasa sebagai orang berdosa, yang tak pernah pantas di hadapan Allah dan sesama. Malam ini pun, kami tengah berkunjung dan menghimpun orang-orang berdosa seperti kami. Semoga, kami dapat berkumpul menggalang kekuatan untuk membantu posko para pendosa yang berusaha membantu pengungsi. Kami tak boleh pamrih, apalagi punya keinginan berpromosi hegemoni politik dan ekonomi. Karena dengan berbuat baik, kami pun tetap pendosa. Oleh karena itu, kami takut berpromosi akan menambah dosa, sehingga kami buta tak bisa melihat Tuhan di segala tempat dan di mana-mana tempat.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com