Bersama luncur perlahan mobil yang kami naiki, di kiri kanan jalan banyak orang lalu-lalang, di antara mereka ada cukup banyak yang berseragam SAR berdampingan dengan para tentara dari Kodam IV Diponegoro. Rupanya semangat juang mengabdi pada rakyat pangeran Diponegoro ini, mewujud kuat pada relawan tim SAR dan para prajurit, sebagai manifestasi manunggalnya rakyat dan TNI. Banyak juga di antara pengungsi yang menjadi penolong bagi pengungsi lainnya, ada yang sedang membagi bekal makanannya, ada pula yang sedang memondong pengungsi yang lebih tua, pada kesempatan ini ternyata ditampakkan bahwa bangsa ini banyak yang masih bersikap ksatria sebagai jati diri. Mungkin di peristiwa Merapi ini, Allah berkenan mengumpulkan jiwa-jiwa satria yang mengabdi kepada-Nya, supaya esok ke depan para Cakil, Burisrawa, dan Rahwana tersingkirkan dan hancur, karena mereka inilah manusia-manusia yang tidak bersyukur, malah merusak pranata tata negara dan kebangsaan. Orang semacam ini termuat beritanya di surat kabar dan televisi, yang dengan celotehnya tak bertata krama, menyakitkan hati orang-orang yang sedang dirundung malang. Raksasa-raseksi jelek ini tidak pernah bangga menjadi bagian bangsa ini, mereka ada duduk di tingkat eksekutif, yudikatif, legislatif, entertainmen dan bisnis. Ingatlah kamu semua, saatnya sudah tiba, seluruh alam dunia sedang bergolak serempak, mengatur etika dan estetika alam, sudah pasti kamu semua akan binasa dan musnah. Allah adalah sumber keputusan mutlak kebajikan, barangsiapa tidak bajik dan menentang hukum alam yang pasti hukum Allah, sudah pasti musnah, karena kamu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Demikian pula pergolakan alam Yogyakarta, Jawa, Bali, dan Sumatra, serta Papua dan sekitarnya, adalah tandanya keserempakan alam menanggapi Kehendak Maha Bijaksana-Nya Tuhan.

Dekat simpang Tugu sendu dan berabu, sepeda motor berduyun terburu, wajah-wajah tua-muda, jejaka-dara, panik berduka kehilangan tenang jiwanya, membuat perasaan kami miris teriris. Daerah Yogyakarta dan kota Ngayogyakarta Hadiningrat malam ini sedang bertempur dengan kuat, memperlihatkan adhi luhung budaya jawanya di tiap tingkah, polah, juga perilaku untuk mandiri, saling memberi antar rakyatnya, cukup banyak terwartakan dengan saling tolong-menolong antar penduduknya. Kuatnya budaya Jawa ini harus makin ditekankan pada keseharian hidup, percayalah satu waktu yang sudah tertentu, akan balik menghantam budaya egosentris, hedonis, oportunis kapitalis, yang mencoba menjajah jatidiri bangsa ini.

Pada sebuah sudutmu Jogja, mobil kami jengah, badan kami lelah, kereta mesin roda empat ini menepi untuk istirah. Dekat kami ada sekelompok pemuda yang kumal pakaiannya, berlawanan dengan wajah mereka yang bersinar gembira. Pemuda-pemuda ini banyak membawa bahan makanan, pakaian, dan vitamin obat-obatan di tiap side car scooter classic vespa mereka. Warta Pamarta mendekat dan menyapa mereka, “Dari mana, Mas?”



Mereka menjawab, “Kami dari kelompok Vespa Club Jawa Tengah, ada yang dari Semarang, Kendal, Temanggung, Banjarnegara, dan Purwokerto.”

“Terus mau ke mana?” sahut Warta Pamarta.

“Belum tahu, Mas. Kalau bisa tolong beritahu, Mas, supaya kami bisa memberikan makanan, pakaian, dan obat-obatan ini pada yang membutuhkan.”

Kami dan mereka saling bicara juga berkenalan, akhirnya kami sama-sama sepakat untuk mengantar mereka ke pos-pos terdekat yang kami kenal, supaya cepat berguna membantu pos-pos tersebut merawat dan menolong pengungsi. Sekali lagi, kejadian ini amat kuat menampilkan kepribadian agung manusia-manusia Jawa yang mencintai Jogja, sedemikian pula banyak cerdik cendekia dan rakyat Yogyakarta yang berpikir keras untuk mewujudkan tata kebijakan bagi seluruh Nusantara.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com