Renungan Cinta Merambah Jiwa, Bagian 63
Hari-hari kemarin, sewaktu aku serta kawan-kawanku, diperbolehkan bekerja sama melayankan pertolongan, ke setiap pos pengungsian, hanyalah bagian dari dunia kehidupan, yang sudah dirancang matang, oleh kebijaksanaan segala kebijakan, Allah, Tuhan dari segala tuhan.
Berbicara aku kepada Arjuna Indra Putra, diriku sendiri, bahwa aku harus peka terhadap segala hal yang aku ketahui, dari masa kecil hingga kini. Segala perkara yang aku pahami sebagai manusia bumi, tidak boleh berhulu, ataupun bermuara di kepuasan diri. Aku Arjuna Indra Putra yang masih hidup hari ini, sudah sepantasnya bersinergi dengan insan, insani bumi.

Kalau hidupku hanya mengagumi diriku sendiri, sebetulnya aku menanam benih kesirnaan, dan nanti panen kematian, di tiap kesepian hidup sendiri tanpa teman. Bukankah tidak ada masa depan bagi keluarga kita, bila kita hanya berpikir bagi keselamatan klan kita sendiri?
Hancurnya keselarasan hidup sosial, karena disebabkan rusaknya tata hidup masyarakat, pastilah berbuah remuknya masa depan kita dan keluarga. Pada waktu itu, tiap keluarga menjadi musuh lain keluarga, perang saudara merenggut darah dan nyawa.
Masa depan yang damai bagi tiap keluarga, akan tidak pernah ada, itulah selesainya dunia. Seluruh alam semesta akan berduka, lalu menangis bersama, miris menderaikan limpah bencana. Setelah itu, kebajikan lahir utuh kembali, disebabkan kehendak Sang Maha Kebajikan menata ulang bumi.
Hyang Maha Kuasa adalah sumber dan muara Agung Kebijaksanaan, berkilau terang tak tertentang di segala masa, luas di semua waktu terentang, kebajikan dibentang. Pada bentangan hidup tenunan kebajikan, indah gerak sulaman rendaan bathin menopang jiwa, berbuah hidup adhi karya. Bersorak-sorai semesta dan bumi bergema nyanyi, sebab para manusia bumi yang berhati nurani, mewarisi semua sempurna persada pertiwi.
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Renungan Cinta Merambah Jiwa, Bagian 63


