Aku merenung di tengah nikmatnya kopi hangat, yang lembut merambahi lidahku dengan keagungan rasa aroma, bagai anggun penari Bedhaya, menapaki leherku, menentramkan jiwa raga. Beranda rumah Eyang, penuh menaburkan kedamaian, dari tiap sudut unik cantik gaya rumah kolonial Jawa, abadi menawan jiwa. Lelah hilang hengkang, rasa syukur duduk dengan sopan bersinggasana hatiku, yang berwajah tenang. Peristiwa Merapi berpentas tari bahasa alam, mengundang mata tiap jiwa datang, kebijaksanaan agung Hyang Widhi jadi terpandang agung gagah berkumandang. Kelayakan suatu keharusan perjalanan insan di kehidupan, pastilah menuju pada pencerahan. Karena jiwa yang menjalankan pencarian, akhirnya menemukan yang dirindukan. Tak satu pun insan bisa berpaling muka, dari kebijaksanaan yang merajai semua raja, daya maha cipta Allah, abadi tak pernah bisa kalah. Gerak langkah apian Merapi, merantaskan kepongahan hati insani, yang jumawa sombong diri, merasa selalu bisa memprediksi kehidupan ini. Aku tertawa sendiri, sebab kita sering salah bersikap diri.

Hari-hari kemarin, sewaktu aku serta kawan-kawanku, diperbolehkan bekerja sama melayankan pertolongan, ke setiap pos pengungsian, hanyalah bagian dari dunia kehidupan, yang sudah dirancang matang, oleh kebijaksanaan segala kebijakan, Allah, Tuhan dari segala tuhan.

Berbicara aku kepada Arjuna Indra Putra, diriku sendiri, bahwa aku harus peka terhadap segala hal yang aku ketahui, dari masa kecil hingga kini. Segala perkara yang aku pahami sebagai manusia bumi, tidak boleh berhulu, ataupun bermuara di kepuasan diri. Aku Arjuna Indra Putra yang masih hidup hari ini, sudah sepantasnya bersinergi dengan insan, insani bumi.

Krishna and Arjuna in Bhagavad Gita

Kalau hidupku hanya mengagumi diriku sendiri, sebetulnya aku menanam benih kesirnaan, dan nanti panen kematian, di tiap kesepian hidup sendiri tanpa teman. Bukankah tidak ada masa depan bagi keluarga kita, bila kita hanya berpikir bagi keselamatan klan kita sendiri?

Hancurnya keselarasan hidup sosial, karena disebabkan rusaknya tata hidup masyarakat, pastilah berbuah remuknya masa depan kita dan keluarga. Pada waktu itu, tiap keluarga menjadi musuh lain keluarga, perang saudara merenggut darah dan nyawa.

Masa depan yang damai bagi tiap keluarga, akan tidak pernah ada, itulah selesainya dunia. Seluruh alam semesta akan berduka, lalu menangis bersama, miris menderaikan limpah bencana. Setelah itu, kebajikan lahir utuh kembali, disebabkan kehendak Sang Maha Kebajikan menata ulang bumi.

Hyang Maha Kuasa adalah sumber dan muara Agung Kebijaksanaan, berkilau terang tak tertentang di segala masa, luas di semua waktu terentang, kebajikan dibentang. Pada bentangan hidup tenunan kebajikan, indah gerak sulaman rendaan bathin menopang jiwa, berbuah hidup adhi karya. Bersorak-sorai semesta dan bumi bergema nyanyi, sebab para manusia bumi yang berhati nurani, mewarisi semua sempurna persada pertiwi.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com