Para sahabat lamaku beribu bondong, datang dengan membelah langit, ungu kebiruan aura sinar tubuh halus mereka, wajah mereka berseri bagai himpunan bintang fajar mengitariku. Bagi mereka aku serupa panglima, dari tiap panglima pada kelompok-kelompok keistimewaan mereka. Kata mereka di tiap pertemuan denganku, bahwa aku dirancang oleh suatu Maha Kebijaksanaan, untuk dapat memimpin dan mengarahkan mereka, seturut cipta Kebijaksanaan yang berkuasa menghuni dalam sukma nuraniku. Mereka menamaiku dengan gelar Surya Sumirat atau terang matahari, yang selalu dituntut untuk memberi gemerlap sinar makna hidup pada tiap kelu beku hati, meski keberadaanku sering dihakimi. Aku syukuri keberadaanku ini dengan taat, tak boleh memberontak, meski hatiku bagai dirajam rajah sedari aku bocah.

Surya Sumirat

Peristiwa keberadaanku, sudah ada sebelum pertemuan sel telur dan sperma, dari ibuku sang perempuan, dan ayahku sang laki-laki. Aku terlahir mewujud jadi manusia bumi, bukan karena satu pola pemikiran paham biologis manusia, sebab ayah dan ibuku juga tak bisa merancang cipta daya keberadaan mereka, untuk menggubah sperma dan sel telur mereka.

Maka tidak seorang pun lebih istimewa dari yang lain, dikarenakan tiap insan adalah mahakarya istimewa, oleh karena setiap keistimewaan pada insan, sesungguhnya mahakarya agung Sang Hyang Widhi Wasa. Sedemikian pula aku dengan segala kemampuan metafisika supranatural, bukan berarti aku hebat, melainkan hanya Tuhan penciptaku yang Maha Hebat Kuat.

Barangsiapa menolak keberadaanku, dikarenakan ingin mengukurku dengan pemahaman eksistensi nalar pikirannya, biasanya mereka akan menuai kekecewaan, penyesalan, bahkan tak jarang banyak yang binasa. Bukan karena aku kuat, aku hanya taat menjalani laku hidup mencinta Sang Maha Cinta, menjaga bumi, dan berbuat cinta pada sesama dan seluruh makhluk, seturut bijak agung kehendak-Nya.

Aku tahu, bahwa aku berdosa dan tak pernah sempurna. Maka, sewaktu banyak orang yang terampil kanuragan kadigdayan menyerangku, aku terima dengan tulus serangan mereka, aku rangkaikan jadi buket persembahan roh, jiwa, dan ragaku, pada Allah sesembahanku. Aku tidak boleh merasa paling benar, jadi himpunan serangan tadi, akan berhadapan dengan Kebijaksanaan Sang Ilahi.

Heaven Angels

Sekarang ini, dari teman-temanku sang laskar Surga, aku mendapat berita, saat ini banyak negara yang kuat ingin merusak susun tata negara kita. Mereka mengingatkanku untuk mengarahkan perhatianku, melewati kepemimpinanku pada mereka, supaya ketetapan tugasku sebagai manusia penyembah Allah, melaksanakan ketetapan itu sebagai hidup bakti. Dalam waktu dekat ini, semua negara yang merasa jadi tuhan, habis diserbu kekuatan terbesar seluruh jagad raya. Semua strategi unggulan mereka akan porak-poranda, musnah diluluh-lantakkan laskar Surga. Sudah menjadi keharusan, kuasa Allah merajai Surga, jagad angkasa raya, dan bumi dengan segala isinya. Tiada Tuhan selain Allah, segala sesuatu akan musnah, tetapi kasih tinggal tetap, sebab Tuhan adalah kasih.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com