Laskar Surga ini ada yang kasat dan tak nampak di pandangan mata. Mereka adalah para sahabatku, yang sering berkunjung kala sendiri aku merenung. Mereka itu kawanan makhluk malaikat Surgawi, mereka sungguh kasat bathin bagiku, namun juga bagi teman-temanku para indigo. Warta Pamarta, Sugeng Waluya, Kenya Maryati Dewi, Jaka Satria Sriwedari, dan Winata Kajengan, adalah makhluk manusia indigo. Mereka sungguh manusia, dan nyata terlihat mata, wujud manusia berjiwa malaikat, karya Kebenaran yang penuh hakekat, menampilkan wujud misteri Sang Cinta.

Wanita Jawa, lukisan Basuki Abdullah, on canvas oil
Rock Hudson mailman, and two carpenters


Cakra Prasetya, Adhi Senopati, Guntur Sasmita, Johan Tri Wahyu, Sela Widhi Astana, dan Tata Widharta, adalah kaum penekun hidup bathin, atau populer disebut sebagai orang-orang spiritualis. Bukan berarti mereka kurang martabatnya, dibandingkan dengan para indigo, namun sesungguhnya mereka sering menjadi perantara, antara kaum indigo dengan umumnya manusia. Para spiritualis ini dapat menyampaikan bahasa kalimat agama, seturut agama mereka masing-masing, kepada ragam masyarakat agama yang mereka kenal. Sasmita (Mitha) kekasihku, dia gadis bersahaja yang punya kemauan kuat, meski dia manusia pada umumnya, hanya karena cintanya, ia mulai banyak paham akan keberadaanku.

Aku bersyukur penuh hikmat, atas semua misteri pertemuan dan persahabatan dengan mereka, sebab berjalan dengan mereka selama ini, keunikan Jogja sekitarnya terkuak, sungguh ternyata membuat sanubariku menjadi nikmat. Seperti juga hari ini, kala sendiri dalam perenunganku, ditemani makhluk-makhluk Surgawi, semua sahabat manusiaku tadi, semarak mengisi ruang hati. Indah suasana di ruang hatiku, bagai rumah kencana, berbingkai tata berlian di tiap jendela dan pintunya, berandanya megah ditopang pilar-pilar berukir ornamen cinta kehidupan. Beranda itu menghadap ke taman yang tampil menawan, dengan tarian macam-macam bungaan aneka warna, dan taburan harum wangian berupa kembang. Ditingkahi gerak cintaku, menghembusi taman itu, bebungaan dan kembangan di taman rumah kencana tadi, menarikan lenggok gerak kasih sahabat-sahabatku kepada diriku.

Dalam kenangan percakapanku dengan mereka, para indigos dan kaum spiritualis, kami sama-sama tahu akan adanya pergerakan daya kinetik kebaikan, untuk menyelaraskan semua yang tidak seiring seirama, juga tak urut tata harmoni di kehidupan bumi. Semua hal kasat mata juga tak kasat mata, ataupun logika yang tidak logis, di semangat yang salah merusak bumi, serta merendahkan martabat manusia, sebab over mengeksploitasi flora dan fauna, akan runtuh berurutan, bagai barisan domino dihempas tangan kesantunan.

Banyak negara yang punya maksud merusak tata nusantara, akan saling bertanding perang, karena berebut wilayah bangsa nusantara, yang sesungguhnya wilayah lain bangsa. Pergerakan itu akan memenuhi sisi Utara-Selatan, juga sisi Timur-Barat bumi.

Di negeri kita sendiri, kelompok-kelompok bentukan dari eksistensi luar negara, akan saling mati-matian menghunus pedang, tarik-menarik kepentingan, akhirnya semua mati dilanda kesakitan jiwa kenegaraan mereka. Kalau diibaratkan, jadi seperti perang kehinaan, antara kelompok Cakil, Burisrawa, Rahwana, Sarpakenaka, dan sejenisnya, miris musnah habis, ditelan semangat mereka yang najis.

Alangkah baiknya bila kita waspada, dan dengan jujur mengakui, kita masing-masing adalah gudang kesalahan. Apabila kita memahami, bahwa kita masing-masing salah, maka akan timbul kesadaran bersama memperbaiki kesalahan, dan akan menuai kebenaran. Di saat itu, hulu dan muara kebenaran Kehendak Agung Kebijaksanaan Allah, tentram menyelimuti kita. Alam negeri kita sudah dengan penuh cinta memperingatkan, ditandai kebangkitan gunung-gunung, meremajakan bumi Nusantara.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com