Aku Galuh Arjuna Indra Putra, nanti malam akan pergi bersama Jaka Satria Sriwedari, untuk nonton pementasan wayang kulit, di balai desa Galih Gesang kabupaten Sleman. Ayah Warta Pamarta adalah kepala desa Galih Gesang, menghimpun rakyatnya mengutarakan syukur kepada Tuhan, karena diperkenankan menolong, dan menampung para pengungsi peristiwa Merapi memuntahkan lahar api. Aku ingat beberapa hari lalu, ketika kami bertiga sibuk lalu-lalang, untuk berkoordinasi dengan berbagai tim, supaya bisa menolong para saudara dari desa lereng Merapi di seputaran Jogja. Ketika sampai di balai desa Galih Gesang tersebut, kami melihat jenis kelompok manusia kawula alit, yang sadar mengungsi, dan kaya semangat memberi.

Wayang Prabu Kresna dan Dewa Wishnu
Arjuna and Krishna Bhagavad Gita in Kurushetra

Orang-orang pengungsi di balai desa tempat pengungsian itu, berbeda dengan tempat lainnya. Nalar mereka tepat, tabah hati mereka hebat. Walau desa asal mereka habis rampung, mereka tidak murung, sebab sadar amatlah beruntung, masih diperkenankan hidup oleh Tuhan. Mereka sungguh kawula alit, bukan terukur dari karena punya atau nisbi duit, bukan pula rendah tinggi tingkat unik akademik, tetapi sungguh mereka kawula alit, hati nurani mereka dapat terang melihat, bahwa hidup harus penuh syukur bahagia, boleh hidup di dunia. Aku percaya, himpunan gabung manusia kawula alit inilah, pewaris bumi nusantara. Kawula-kawula alit ini, ditampilkan pula oleh rakyat dan kepala desa Galih Gesang kabupaten Sleman, membuat hatiku tertawan.

Wayang Pandawa Lima

Penduduk Galih Gesang dan pengungsi dari Asrep Palon, penaka wujud sungai cinta, yang tengah didatangi ikan-ikan, yang hidup berkunjung ke tenang arusnya. Dasar sungai itu pun menyuguhkan oksigen dan makanan. Sungguh sungai cinta itu ada nyata wujudnya, di tiap sungging senyum, juga laku penuh pertolongan dari penduduk desa Galih Gesang.

Dari ladang dan sawah Galih Gesang, pangan natural yang tumbuh alami, dan dipupuki tanpa bahan kimiawi, diolah-hidangkan oleh penduduk dan pengungsi. Ini adalah bentuk hidup nyata, cara sosial kawula alit hidup di bumi pertiwi. Dengan peristiwa Merapi ini, semakin terlihat mana kawula alit sejati, dengan mereka yang masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Komunitas kawula alit ini, biasanya tidak pernah pelit, menolong orang juga tidak rumit. Kala tak punya uang, makna hidupnya tidak melayang-layang, sembah bakti adalah hidupnya bukti, mengabdi kepada Sang Hyang Widhi.

Sebenarnya masih banyak calon para kawula alit ini, yaitu mereka, orang-orang lain yang masih diberi kesempatan hidup. Asal saja mereka peka dan merenung, lalu memperbaiki gaya hidup yang semau diri, menjadi sadar menjaga bumi pertiwi, dan berbuat bajik kepada setiap orang dan seluruh makhluk, sebagai hidup bakti menyembah Sang Maha Hidup.

Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com