Kawula alit ini bisa berwujud jadi dokter, pengacara, perwira militer, mahasiswa dan pelajar, pengusaha, petani, seniman, pegawai negeri sipil, biasanya mereka ditandai dengan sikap mereka yang bersahaja, halus bertutur, bicara apa adanya, penolong bagi siapa saja. Seperti pada umumnya, kawula alit ini tidak pernah goncang kala tak punya uang, karena makna hidup bagi mereka, tak terhitung dengan nominal uang.

Makna hidup mereka, adalah sadar sebagai manusia bumi, tidak terawang-awang oleh dunia politik dan ekonomi, yang serba mengambang. Politik dan ekonomi, bukanlah dunia nyata bagi mereka, karena fakta hidup yang mereka pahami, bahwa hidup itu sendiri bukan ciptaan mereka.

Mereka amat sangat mensyukuri hidup, ketika mereka tampil sesuai fitrahnya, di tiap dunia profesi yang ditekuninya. Mereka akan tampil penuh kualitas, untuk menghormati alam sekitarnya, dan juga maksimal menolong sesama manusia. Mereka sangat spiritualis, namun juga sangat materialis, yaitu sangat menghormati Tuhan dan patuh berbuat bajik, sangat paham menghargai manusia, binatang, semua tumbuhan pangan dan tumbuhan non-pangan, menghormati tiap tegukan air, tiap hirupan udara, mengagumi panorama alam semesta, menghargai mengelola mineral bumi.

Helping Hands

Mereka dengan sadar menjaga itu semua, karena semua tadi adalah materi yang faktual dan nyata, bukan seperti uang yang ilusif dan tak nyata nilainya, yang fiktif nilai nominalnya. Seperti contohnya, uang tidak bisa memelihara hidup jiwa dan ragawi, tetapi beras dan makanan pokok lainnya, juga sayuran dan buah, air dan udara, yang bisa menjaga stamina fungsi ragawi mereka. Manusia dan hewan di sekitar mereka, yang bisa membuat hidup mereka berarti, sehingga kejiwaan mereka berfungsi. Mineral bumi dan kayuan, membuat intelektualitas mereka berkembang, mengolah mineral bumi dan kayuan tadi, menjadi karya tepat guna, untuk mendukung kepentingan jiwa ragawi mereka.

Dari olahan itu, mereka bisa mempunyai berbagai jenis logam, termasuk emas, titanium, dan lain-lainnya. Hasil pengolahan kayu, mereka bisa nikmat menggunakannya jadi rumah, mebel, handicraft, dan kertas. Dari kertas dan logaman itu, salah satunya mereka bisa merancang bangun, membuat alat tanda tukar, yang namanya uang. Jadi bukan uang yang membuat hidup ragawi mereka terjaga, tetapi sungguh menyembah syukur kepada Tuhan, dengan berlaku menjaga manusia dan alam sekitarnya.

Pada sikap hidup mereka itu, dinyatakanlah kepada kita, bahwa sungguh nyata, hidup itu bukan dikarenakan dengan adanya uang. Uang tak berkuasa atas hidup kita, namun hidup kitalah yang berkuasa atas uang. Kekuatan syukur mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, membuat kita berlaku penuh cinta kepada sekitar kita. Maka sekitar kita tergerak oleh kekuatan cinta itu, lalu bersama-sama saling mencintai dan bekerja sama. Oleh karena itu, di tiap kitab apapun agama, hanyalah orang yang soleh dan tawakal, empunya bumi. Dalam budaya kaweruh Jawa, orang-orang itu disebut kawula alit, pewaris persada pertiwi.

Mother Teresa feeding a child


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com