Suasana agak sepi, namun sejuk udara awal pagi, ketika aku dan Jaka Satria Sriwedari mendekati simpang Tugu. Pedagang sayuran, lelaki dan perempuan, nampak gigih berjuang, menghaturkan bahan pangan, ke pasar kota bernama Pasar Kranggan. Ini adalah suatu keharusan, dari keistimewaan cara hidup manusia Yogyakarta, menghidupkan sulaman dan rendaan, di helai tenun kain santun budaya Ngayogyakarta Hadiningrat. Seperti juga santunnya ingatan kami, tentang lakon di pementasan wayang kulit semalam. Ki Hadi Sutikna begitu hidup digerakkan oleh sukma sejati, menampilkan cerita, juga gerak wayang kulit, di balai desa Galih Gesang, menghadirkan penanaman kesantunan laku, di tiap jiwa para pemirsa.

Aku dan temanku Jaka Satria saling bergayut hati, menambatkan pemahaman kami, masuk ke dalam sanubari, budaya Jawa Yogyakarta merajai hati dan sukma. Pada pagelaran wayang kulit itu, sudah jadi kesepakatan sejak berabad silam, semua raksasa akultural, habis digasak kegagahan satria, yang sakti dan sarat makna kultural Jawa.

Di gerak anggun berwibawa scooter antik Vespa, paham intelektualitas kami berinteraksi, mulut kami saling bicara, tentang kuat keistimewaan budaya Jogja, di gerak bayangan wayang, ditata jiwa Jawa bijaksana pada ki dalang. Memang hanya orang-orang bodoh saja, yang mengatakan bahwa menangnya kebaikan hanya sebuah relativitas. Cerita hidup menangnya kebenaran melawan kejahatan, pada pagelaran wayang, pagi ini nyata diwartakan, dengan katonnya bagaskara sang surya sumirat, membelahi dengan terangnya, suasana gelap di pagi menjelang. Maka semburat terang cahaya, berkemilau mengkilapkan atap-atap bangunan dan ruas jalanan, di semua sudut kota Yogyakarta.

Early morning at Simpang Tugu, by Donny Verdian

Kami saling bicara, gerak bahasa jiwa kami menginjak bumi, menatang langit pagi. Kebiruan langit yang berkerlap-kerlip dihiasi hujan gerimis, menandai Jogja akan hidup kembali, karena sadar dari kepalsuan inovasi luar, yang semu bercadar, sebentar lagi bubar terbongkar. Baliho-baliho papan reklame, bagai tampang kere para Cakil dari daerah manca, selama ini membawa luka jiwa mereka yang mengoreng, menyakiti wajah Jogja jadi coreng-moreng.

Tugu Jogja, dulu dan kini

Kami membicarakan hal ini, dilandasi rasa kuat cinta kepada Jogja, karena sepengetahuan kami, juga seperti diketahui oleh bangsa dunia, Yogyakarta tempat tinggalnya keagungan budaya, yang lebih tua dan bermakna, sebelum dan sesudah Indonesia ada. Bukannya kami mau mengingkari kewarganegaraan kami, namun kami sungguh hormat, apabila pemerintah Indonesia mau kembali menilik belajar, tentang kekuatan budaya Yogyakarta.

Priyayi Jogja dulu dan orang tanpa tata

Secara nyata, ketika clash kedua dengan Belanda, hanya Jogja yang berwibawa di mata Netherland. Oleh karena itu, dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke Yogyakarta, Hamengku Buwana IX Sultan Jogja bersama rakyatnya, berperan kuat menjaga keamanan NKRI. Cerdik sandiyudha dilaksanakan antara Sultan HB IX dengan seluruh rakyat Jogja, bekerjasama dengan Jenderal Besar Sudirman dan tentara Indonesia, membuat keberadaan eksistensi Indonesia terlihat oleh dunia. Hal itu menunjukkan bahwa keistimewaan kekuatan budaya Jogja, berperan besar mempertahankan kewibawaan negara kita.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com