Perbincangan Suara Cinta di Jogja, Bagian 69
Kami erat berbincang, karena kemarin malam, sebelum kami berangkat menonton wayang, berita buruk di televisi tertayang, adanya kepentingan lancang, supaya keistimewaan Jogja bisa diguncang. Kumpulan Cakil, Burisrawa, Sarpakenaka, dan Rahwana, dengan tanpa akal nurani, seenaknya berkata-kata, berkeinginan Jogja dan rakyatnya kehilangan muka.

Wahai sekalian kamu para raseksi-raksasa, adakah kamu sekalian mencintai tanah persada ini? Kalau kamu semua sudah tak punya cinta pada negeri ini, pergilah dan mati di negeri luar, yang kamu sekalian dewakan! Lupakah kamu kepada kemurahan hati Sang Hyang Widhi, yang berkenan mewujudkan kamu sekalian supaya hidup tenteram, oleh karena itu kamu semua dilahirkan, tumbuh, dan berkembang di tanah terbaik yang Beliau ciptakan.
Tanah terbaik itu bumi pertiwi, yang punya kekhususan sejarah tersendiri, salah satunya kekuatan istimewa budaya cinta Jogja, yang sudah menyelamatkan kedaulatan negeri ini. Semua orang kini akan ragu pada semua kamu, sebab kamulah sendiri yang menyatakan, bahwa kamu semua mengkhianati kepentingan seluruh rakyat negeri. Dengan pengkhianatan ini, kamu semua akan mati roh, jiwa, dan raga, karena dengan penuh sadar, keserakahan kalian membuat kehancuran anak-cucu yang kalian sayang. Tidak hanya anak-cucu keturunan kamu semua jadi malang, namun juga anak-cucu semua orang, maka kamu semua tengah menyumpahkan kutukan pada diri kalian sendiri, janganlah semua kamu berprotes diri, kala cinta Tuhan menghancurkan kekuatan kebencian punya kalian sendiri.
Ada tentara pulang dinas piket, tukang becak, tukang antar koran, yang juga bersama kami makan sarapan. Tidak hanya kami yang berbincang, mereka pun satu sama lain saling menimpali dan berbincang. Suatu mujizat ditampakkan pada gerak wajah, sorot mata, gerak tubuh, dan nada suara kata, semua satu bahasa, kecewa dan murka kepada kalian semua, pengkhianat bangsa.
Sebentar lagi kamu semua tak bisa senyum apalagi tertawa, kalaupun memaksa diri tertawa, kamu semua tertawa ketakutan, sudah terobek-robek topeng palsu wajah kearifan kalian, menjadikan kenajisan kalian kelihatan. Dan kamu semua yang berasal dari luar Jogja dan Jawa Tengah, yang kini tinggal di Jogja, menumpang mencari hidup nafkah, janganlah kamu semua ikut pongah. Bukankah keseharianmu semua, selalu ditopang oleh kemurahan jiwa kasih budaya Jogja?
Bukan Jogja yang harus berubah, tapi kalian anak bangsa yang sekarang tinggal di Jogja, yang harus berubah untuk belajar santun, dan berbudaya halus sebagai Jawa Jogja. Semua mata dunia sudah mengakui kuatnya sejarah seni budaya Jogja, jangan kamu semua berkeras diri semau hati, sebab itu hal sia-sia tanpa arti. Kalau kamu semua mau diakui, ayo tunjukkan kalau kalian baik hati dan tahu diri, tunjukkan dan wujudkan, kalian mau hormat dan belajar kearifan budaya Jogja, sehingga kalian pantas disebut siswa-siswi bangsa yang berkualitas dan berbudaya.
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Perbincangan Suara Cinta di Jogja, Bagian 69


