Agung Budaya Cinta Bicara, Bagian 71
Pada suatu halaman buku liris prosa yang kubaca, Sugeng Waluya memaparkan dengan tulisan penanya, bahwa bila Jogja dan rakyatnya sadar untuk tetap tampil dengan keaslian budaya, bisa menggetarkan kekaguman hati tiap orang. Kekaguman hati tiap orang, akan membawa mereka semua berkunjung bertandang, memenuhi gerak batin mereka, untuk sowan ke Ngayogyakarta Hadiningrat.

Aku percaya, harapan yang terbersit pada buku liris prosa ini, menunjukkan betapa besarnya harapan iman rakyat Jogja mempercayai, kekuatan mereka ada di kesejatian edhi peni budaya mereka. Kenapa bisa begitu? Jangan lupa, apa yang Sugeng Waluya tuliskan, pasti hasil berkomunikasinya sang penulis dengan masyarakat sekitarnya. Masyarakat yang memberikan inspirasi kepadanya, tentunya kebanyakan orang Jogja, yang peka dan sadar, akan betapa kuatnya pitutur dan laku, di dalam budaya Jogja, akan memimpin maju dan modernnya nusantara.

Ada tersirat dan tersurat pada ini liris prosa, bahwa para raksasa durjana ketakutan dengan sangat, akan gagah berwibawa budaya Mataraman Jogja. Para raksasa durjana itu, pasti bukan berasal dari Jogja, sebagian dari negeri manca. Mereka bekerja sama, merencanakan licik kecurangan, dialih-rupakan dalam rupa kebijakan nasional. Salah satunya adalah dihapusnya penekanan pemahaman budaya Jogja dan nusantara, lewat kurikulum pendidikan, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Maka kurikulum tadi, sesungguhnya perwujudan dari kurikulum pembodohan nasional.
Mereka berpendapat, dengan dirusaknya budaya Jawa Jogja Mataraman dan Jawa Tengah, tiap suku bangsa akan kehilangan mercusuar, tolok ukur budaya nusantara. Seperti sudah kita ketahui bersama, anak-anak muda sekarang jadi kurang pandai berbahasa Indonesia, tidak mengetahui wawasan nusantara, malah bangga lebih bisa berbahasa asing, juga bercita-cita kagum pelesir ke negara luar, sementara seluruh pesona nusantara tidak mereka kenal. Bukankah itu sungguh-sungguh pembodohan nasional? Mengetahui dan melaksanakan seni budaya pada tiap suku bangsa sendiri saja belum bisa, lha kok malah mau dijajah untuk belajar seni budaya luar, betul-betul ulah para raksasa itu keterlaluan.
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Agung Budaya Cinta Bicara, Bagian 71


