Sembari membaca liris prosa Sugeng Waluya, aku ingat suatu kejadian menyedihkan, ketika aku dengan Warta Pamarta, main ke sebuah wilayah desa pinggiran Jogja. Rupanya, ketika sampai di sana, sebagian mereka tahu, bahwa aku seorang pemusik yang mereka kenal, maka mereka pun salah bersikap menyambutku, dengan gaya bahasa model Jakarta. Waktu itu tersenyum kecut aku, kekecewaanku menguat. Aku balas sambutan mereka, dengan halus rasa terima kasihku kusampaikan dalam bahasa Krama Inggil Kedhaton. Yang terjadi adalah betapa pontang-panting campur-baur bahasa Jawa mereka. Warta Pamarta cepat menanggapi, bercerita tentang pengalaman kami di rangkaian negeri Eropa, dengan runut ucap krama inggil Mataraman Jogja, kepada mereka.

Bersama ingatan itu, mataku membaca berlarik-larik liris prosa Sugeng Waluya. Budayawan ini berbicara dengan tulisannya, bahwa bangsa yang akan maju dalam segala hal, dan jadi sungguh modern, kalau tidak kehilangan jatidiri budaya bangsanya. Ia bercerita pengalamannya, tentang pentas seni yang dia lakukan di banyak negara. Salah satunya, ia pernah pentas di Korea, ia melihat orang Korea maju dalam hal teknologi dan edukasi, sepandai mereka berbahasa dan menulis dengan huruf korea. Mereka orang Korea, masih tetap pandai bermusik dan bersendratari korea, meski mereka juga pandai main musik eropa, dan bertutur Inggris dalam berbahasa.

Liris prosa yang Sugeng Waluya guritkan, sungguh menunjukkan ia orang Jogja yang santun budaya, sekaligus ia orang Indonesia, yang pandai bertutur bahasa Indonesia. Tiap episode cerita liris prosa tentang Jogja, ia tuturkan dengan sastra terjaga, dalam bahasa Indonesia. Tulisan-tulisan itu mengguratkan kepercayaan harapan sejati orang Jogja, supaya kaum muda Jogja kuat kembali, berlaku tampil dalam laku, berkarawitan, bersendratari, berbahasa halus krama Jawa, agar jadi anak bangsa yang sungguh modern dan berwibawa. Demikian pula, di rangkaian gerak penanya berkata, supaya anak Indonesia mampu memahami jatidiri bangsanya, bangga berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bangga mementaskan seni budaya bangsanya, selanjutnya baru bisa bangga menampilkan seni budaya universal. Rupanya Sugeng Waluya dengan halus menyampaikan, setiap suku bangsa harus ahli dalam budaya asalnya, karena itu akan memperkuat pemahaman mereka, untuk sadar menampilkan budaya persatuan nusantara, bertanah air satu, berbahasa persatuan satu, berbangsa satu, melakukan laku hormat, menjunjung Bhinneka Tunggal Ika.

Lambang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Garuda Pancasila, Pura Pakualaman

Aku tersadar bagai tertampar, ternyata aku pun merasa masih kurang menyadari kekuatan melakukan budaya Jogja dan Nusantara. Kalau orang Cina, Jepang, Korea, bisa kuat dan maju hasil filmnya, produk industrinya, keyakinannya berbangsa, karena kuat berbudaya tulis, bahasa, dan seni dalam budaya mereka.

Ayo kaum muda Jogja, bangkitlah kamu saudaraku! Kita tidak kalah dengan mereka, maka banggalah kamu saudaraku, untuk bertingkah laku Jawa Jogja, berbahasa halus Jawa Jogja, berseni musik dan tari budaya Jogja. Alangkah hebatnya juga, kalau kita bisa mewujudkan arsitektur Jawa Jogja, memenuhi semua sudut kota Ngayogyakarta Hadiningrat. Bersamaan dengan itu semua, kita akan bisa elit bertata dagang, karena kota kita anggun istimewa untuk dipandang, maka para pelancong akan datang.

Mari kita berkaca pada wajah kita, supaya kita kuat keyakinan menjadi bangsa maju dan moderen, dalam segala bidang. Dengan kepercayaan diri bangsa, kita akan bersemangat untuk setara dengan lain bangsa, di bidang seni, tata kota, teknologi informatika, juga semua intelektualitas yang produktif. Bangun, Jogja dan rakyatnya, bila kita yakin untuk mensyukuri jadi manusia Jogja yang istimewa, kesuksesan dengan bangga jadi milik kita.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com