Sugeng Waluya dalam episode prosa lirisnya yang ketujuh puluh tiga, di rangkaian kata dan kalimat, ia menyampaikan kata hatinya. Dengan penanya ia bicara, kirab budaya nusantara sudah sering berlanglang keliling di kota Jogja. Pada kirab ini, setiap wilayah propinsi di Indonesia, menampilkan keunikan budaya tiap suku bangsa, Jogja bagai taman luas yang agung, mempersembahkan tampilan bebungaan dan buahan budaya Nusantara.

Di episode itu, Sugeng Waluya bercerita dengan tulisan bahasa, tentang gerak bertautnya kebutuhan berbudaya. Perwakilan budaya dari tiap suku bangsa, biasanya ditampil-wakilkan oleh mahasiswi atau mahasiswa dari tiap suku, yang sedang menuntut ilmu, belajar hidup bersama budaya Jogja. Sepertinya sudah digariskan oleh suatu ketetapan kesadaran sukma tiap suku bangsa, pri dan non-pri itu tidak ada, yang ada mereka jadi kaya berbudaya, ketika menyatu dengan estetika budaya Mataraman Jogja.

Kirab Budaya Jogja

Barongsai, Reog Ponorogo, barisan tari Dayak, Jaipongan Sunda, rampak tarian Minang, Aceh bertari Saman, dan banyak lainnya, kawin-mawin memeriahkan suasana. Puncak dari pesona susunan barisan kirab budaya, sungguh menjadi agung tertata, ketika budaya beksan Ngayogyakarta dan banyak tari Jawa Tengah, rela santun menutup rangkaian dengan anggun.



Semua kegiatan kirab budaya nusantara di Jogja, seperti mengungkapkan ketika kuat Yogyakarta jadi ibukota, menyelamatkan kedaulatan Republik Indonesia. Sejarah Yogyakarta tampil sebagai ibukota, sungguh nyata dan tak bisa diubah. Hanya jiwa yang lemah berbudaya bangsa, yang tak tahu diri dan lupa, dan mencoba mendiskreditkan peran keistimewaan Jogja, tidak pantas disebut warga negara. Orang-orang semacam ini, sudah pantas untuk hengkang dan musnah, karena mereka mencoba menegukkan racun kepada kesatuan bangsa Nusantara. Siapapun mereka, secara pribadi atau berpartai kelompok, pejabat tinggi dan rendah, orang kaya dan miskin, pegawai negeri atau swasta, tidak pantas tinggal di Indonesia, dan sangat baik untuk musnah.

Bagi bangsa lain yang melihat kebodohan ini, mereka pun akan berpendapat sama. Orang-orang seperti itu pasti dianggap rendah martabatnya, maka ketika mereka lari ke luar negara mencari selamat, negara yang disinggahinya akan ragu menerimanya. Kenapa? Karena barangsiapa bisa mengkhianati negaranya, maka ia pun berbakat jadi pengkhianat bila pindah kewarganegaraannya. Pemahaman seperti ini, ibarat seseorang yang bisa membakar rumahnya sendiri, pasti juga bisa menghanguskan rumah tetangganya, karena ia tidak punya cinta.

Aku tercenung dan merenung, kelompok yang mementingkan kelompoknya sendiri, orang yang cari selamat dengan politik cinta diri, sesungguhnya mereka tengah mengakhiri hidupnya, sebagai warga negara dan warga dunia. Mereka pikir, Yang Maha Esa hanya punya mereka, mereka tidak sadar, masyarakat di sekitar mereka adalah juga karya Sang Hyang Widhi Wasa. Barangsiapa menyia-nyiakan kehormatan bersama masyarakat sekitarnya, ia meremehkan karya Allah, sekaligus menghinakannya. Manusia-manusia seperti itu, tengah bertuhankan cinta diri dan penuh iri benci, mereka dengan sadar mengabdi pada kejahatan setan. Sudah menjadi keharusan, Tuhan akan menata ulang kebijakan-Nya, orang-orang itu pasti punah dan musnah.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com