Derasnya Cinta Tuhan Jatuh di Jogja, Bagian 74

Hujan deras menghantam atap beranda, dan lantai halaman menuju taman. Aku rasakan kekuatan panah Pasopati, menjadi puluhan ribu laksa tak terhingga, menghunjam bumi Jogja. Air hujan ini, adalah limpahan dari daya kebijaksanaan kebajikan Surgawi, atau pantas dinamai beruah limpah tirta perwitasari. Hujan lebat ini adalah limpahan berkat, deras mendaraskan Surga Cinta Kasih, menyemai tumbuhkan banjiran kebajikan. Pada bertumbuhnya wujud banjiran kudus kebajikan ini, banyak hidup tumbuhan baru, mengisi tanah bumi. Demikian pula hujan deras itu, memuntahkan lautan gelora lahar penataan ulang, yang dengan sejuk dingin, menjadi daya tak terhingga, batin kawula alit. Bersamaan gelora lautan daya kecintaan Tuhan sekarang ini, semua penyembah setan yang menyusup di Jogja, hingar bingar ketakutan, lalu punah binasa.
Laskar Surga, para malaikat, dan roh-roh kudus leluhur wangsa manusia, tak terhitung jumlah, melebihi dugaan manusia bumi. Mereka ada di tiap gerak angin, jatuhan hujan air, gerak tanah bumi, dan gemerlap sinar matahari, serta juga di gemulung mendung. Mereka sungguh pasti dari segala kepastian, yang dipahami logika manusia penekun eksakta. Daya komando yang menggerakkan mereka mengisi bumi, meluluh-lantakkan pendapat eksakta manusia, yang tidak kekal dan tidak nyata. Kebodohan manusia yang menyembah pikirannya sendiri, dan merasa bisa mengatur bumi, menyatakan mereka naif tak terperi, lupa tidak bisa membuat otaknya sendiri. Sesungguhnya hal yang kekal dan nyata, seharusnya sudah dipahami para manusia, ketika mereka mau menyadari, bahwa mereka tak punya kuasa atas hidup mereka sendiri. Sudah menjadi kenyataan yang hakiki, hidup manusia, tak seorang pun bisa menganalogi atau tak pasti, karena yang pasti adalah mati.

Ngayogyakarta Hadiningrat, dahulu sebetulnya sudah berpenduduk yang bermartabat ningrat, karena penuh syukur berkat, dalam melakukan jati diri budaya Mataraman Yogyakarta, dengan sarat ningrat. Seseorang ningrat, adalah manusia yang tidak pernah merasa paling benar dalam segala hal, juga tidak merasa tersuci dari yang lainnya. Seseorang ningrat akan selalu berlaku mensyukuri berkat, menjaga keutuhan budaya jiwa kesejatian, sebagai manusia Ngayogyakarta Hadiningrat. Seseorang ningrat di berbagai macam strata, raja, hulubalang raja, prajurit perwira, juga rakyat biasa, sudah seharusnya berani memelihara kekayaan budaya, di bumi Mataraman Yogyakarta.

Dituntun bacaan prosa liris Sugeng Waluya, aku menyadari, sering aku berbuat kebodohan, sebab melupakan pribadi nyataku, sebagai orang jawa Yogyakarta. Mungkin banyak orang seperti aku, yang sering ragu-ragu untuk mengaku, jadi orang yang sungguh jawa dan sungguh Yogyakarta. Namun aku percaya, melewati rangkaian kirab peristiwa gerak alam, semua ketidak-imbangan ditata-ulang, supaya nyatalah keseimbangan alam bumi berdendang riang. Dendang riang keselarasan imbang alam bumi, akan lahir di tiap insan, karena insan dan buana adalah kesatuan tak terpisahkan, yang harus mesra beriring dengan tumbuhan dan hewan. Dari bumi, manusia mendapat tumbuhan pangan dan sandang, dari hewan, manusia mendapat asupan gizi tambahan, juga kesenangan mempunyai peliharaan kesayangan. Maka, sudah layak dan sepantasnya, manusia yang sudah makan dan minum tubuh dan darah bumi, mempersembahkan cinta, menyembah jaga kelestarian alam bumi. Ketika kita mempersembahkan cinta kita menjaga keseimbangan alam bumi, pada waktu itu juga, kita sedang mengatakan, "Aku mencintai-Mu, Tuhan!".
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Derasnya Cinta Tuhan Jatuh di Jogja, Bagian 74


