Tulisan cerita liris prosa Sugeng Waluya, gagah berbudaya Jawa, bercorak alur gaya sastra Jawa, anggun teratur melangkah berbahasa Indonesia, menampilkan Nusantara. Kata-katanya sungguh indah sarat makna, gerak jiwanya tampil di sana, bagai laku kirab mengitari kuat megah benteng budayanya, laksana bangunan Kedhaton istana budaya. Percaya sungguh aku, seturut rencana agung Kangjeng Gusti Pangeran Pencipta kehidupan, suatu saat kirab laku budaya, kembali menghuni keseharian hidup masyarakat Yogyakarta. Pada sikap merajanya budaya Jawa Ngayogyakarta, alam bumi sekitar Jogja nanti, akan berpendaran berlian pesona, dilingkup ikat halus sopan, laku Jawa keemasan. Tua-muda, jaka-dara, kecil-dewasa, datang berlarian hingar hinggap, menilik Jogja pada itu masa. Jogja akan dipenuhi sowannya himpunan kereta kekaguman banyak bangsa, Jogja tampil sebagai raja berkereta kencana. Kusir dan kuda penarik kereta kencana itu, adalah kaum spiritualis cendekia bathin. Adipati, punggawa, juga kumpulan pengawal ksatria, adalah penduduk Jogja yang berbudaya utuh istimewa Jawa.

Jumenengan Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, HB IX, HB X

Langitan Jogja indah kebiruan, tempat bertengger cerah putih gemawan, jadi sarana berpayungnya kota Jogja, bagai peneduh berkirabnya pusaka agung dunia. Gadis-gadisnya pandai menguasai berbagai keilmuan, serasi bersalut busana kain kebaya, berbatik tulisan corak Yogyakarta. Jejakanya tampak gagah berteknologi segala bidang, berbungkus blangkon beskap, jantan berjarik tenunan kain batik, moderen dan apik tampakkan Nusantara Jawa Jogja. Semua itu disebabkan, karena seluruh pelosok Jogja rendah hati tidak jumawa, penuh yakin bertampil diri, berbingkai indah rangkaian tata kota bangunan rumahan gaya Jawa.

Langit biru cerah di Jogja

Gerak gambaran yang dilukis dalam benak jiwaku ini, pastilah suatu ketetapan kuat nyata keputusan Surga, oleh sebab keindahan maha-estetis adalah Allah sendiri. Perlahan nampaknya, namun sungguh kilat kecepatannya, gerak Laskar Surga melaksanakan perintah Sang Maha Indah, Jogja sekarang sedang menuju, menjadi ukiran budaya gagah tertatah. Semua manusia Yogyakarta pada itu masa, menjadi guru laku bagi para pendatang, yang ke Jogja untuk bertandang. Para pendatang puas di layanan cinta kasih keindahan Jogja, hati mereka sadar untuk ditata, bahwa hidup adalah keharmonisan kerjasama, untuk membuat gunungan tumpeng mensyukuri kehidupan.

Gunungan nasi tumpeng

Tiap bangsa adalah unik gunung tumpengan, lengkap dengan lauk serta sayuran, yang siap mempersembahkan hormat pujian, mengabdi kepada Sang Hyang Widhi. Berjajar kumpulnya gunungan tumpeng uniknya cita rasa, di mata jiwa tiap bangsa, menjadi enak dipandang dan disantap, dengan indah kesadaran bangsa dunia. Sedang gunungan tumpengan Jogja, tampil mengelokkan halus rasa perjamuan persembahan, bersama-sama menatahkan martabat kebersamaan bangsa, menjaga dan melakukan budaya apik ramai, mewujudkan dunia damai. Setiap bangsa di dunia adalah istimewa, tampak di keunikan budaya mereka. Wujud keistimewaan itu perlu, supaya tiap daerah di dunia bumi, bisa tampil apik saling menghormati, sebagai bentuk globalisasi. Globalisasi adalah bukan uniformisasi, maka dari itu, tiap bangsa harus menjaga, hormat keistimewaan lain bangsa. Di keanekaragaman istimewanya tiap bangsa, berputar hiduplah dunia, bagi tiap bangsa satu dan lainnya, saling mempesona. Saling ketertarikan pesona antarbangsa, membuat setiap insan menjadi sejati manusia, bahasa cinta mendunia bercengkerama antar-mereka, sehingga Mahacipta Tuhan, sempurna dinyatakan.

The Peacable Kingdom, by E. Hicks

Alangkah sungguh sahaja, moderennya berbudaya, sewaktu kita tiap bangsa, tidak mencoba mendominasi bangsa lainnya. Dunia itu sungguh hidup, nyata tak terprediksi, hanya dengan halus jiwa, akan bisa terselami. Kegagahan juga kecantikan tiap bangsa, bersama-sama berenang di danau kehidupan dunia, satu sama lain saling melirik, bagai pria dan gadis cantik. Gagah tegar dan molek cantik ayu, pada keunikan istimewa keindahan budaya tiap bangsa, haruslah ada, supaya martabat bangsa manusia terjaga. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Satu sama lain, bukan jadi penguasa bagi lain sesamanya, seperti mempelai pria bersanding kecantikan pengantinnya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com