Kepemimpinan Roh Cinta, Bagian 76
Sembari membaca liris prosa Sugeng Waluya tentang Jogja, aku minum kopi jawa tanpa gula, maka suara Palguna keponakanku meluncur manis wangi, memasuki telingaku. Di suara itu aku menangkap berita, bahwa banyak negara yang bersandar pada uang, mulai bingung defisit anggaran kelimpungan. Aku tersenyum kecil, hatiku mengidungkan syukur, Sang Hyang Widhi Wasa sudah mewartakan kuat agung kuasa-Nya. Kalau tidak salah, manusia kan tidak boleh berhamba kepada ilusi uang, namun harus menyembah Tuhan, dengan menebar cinta pada alam, sesama, dan seluruh makhluk. Jujur saja, banyak teman-temanku yang sungguh pandai dalam berbagai bidang, sering menyatakan kemuakannya karena banyak orang bodoh menghamba uang. Aku Galuh Arjuna Indra Putra, turut bergabung dengan pemahaman para sahabatku itu, bahwa uang itu kita yang membuat, maka kita tidak layak menyembah uang, namun uang yang harus menyembah kita.

Baru saja aku meletakkan buku liris prosa, pada layar kaca tertayang berita, berbagai bencana tampil bersama dengan prediksi porak poranda bursa saham. Negara-negara padang pasir sekarang ini tengah jadi arena pertempuran kepentingan, bagai unta berebutan air. Alangkah baiknya kita merenung batin, lalu berlaku batin di keseharian, untuk mewujudkan syukur, dengan penuh nyata sopan menata ulang pengelolaan kaya alam Nusantara.

Pada kesopanan menata kelola alam kaya Nusantara, pastilah di situ hadir orang-orang cerdas rohani dan jasmani. Para manusia seperti itu disebut kawula alit, manusia sungguh ber-Tuhan dan beragama. Kekuatan doa batin yang berjalan dalam kehidupan para kawula alit Jogja, akan lebih hebat dari senjata militer manapun, senjata mata-mata hangus terbakar, permainan kuasa uang pun hilang hengkang.

Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Kepemimpinan Roh Cinta, Bagian 76


