Oleh tampilan acara di layar kaca, aku terdiam bungkam, Palguna sang keponakan berkali menghela napas, wajahnya mewartakan hati panas tidak puas. Berita tentang pontang-panting porak-poranda kebijakan masyarakat kita, baik yang merasa sebagai pemimpin dan yang dipimpin, bagai anyaman salah tenun pilin. Sepertinya penayang stasiun layar kaca di Indonesia, merasa pandai bisa membuat opini benar sendiri, pada setiap pemirsa di negeri ini. Sepantasnya kita bertanya, apakah hal-hal seperti itu tepat guna, ditanamkan berulang di benak kita sebagai manusia? Kalau kita tilik pada riwayat usaha orangtua kita menanamkan pemahaman untuk berbuat baik, ternyata sampai kini kita masih juga salah bersikap, sehingga kurang berkarya baik. Apalagi kalau di tiap hari dihadirkan contoh perbuatan non-estetis, ego didramatisir, sepertinya di bangsa kita, akan lahir banyak orang apatis, lalu egois.

Dunia pertelevisian musnah

Maka ketika 'ku berkunjung ke warnet, aku lihat banyak anak-anak di bawah usia, membuka situs yang sia-sia tanpa guna. Mungkin pula di tiap SD, SMP, dan SMU, para guru tidak teliti batin, menelisik fungsi tugasnya sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar, karena punya semangat uang harus dikejar. Aku banyak dengar dari para guru yang cukup usia, bahwa sekarang guru-guru baru yang muda, orientasinya adalah profesionalisme, bukan kesadaran panggilan mengabdi, mencerdaskan batin dan raga anak bangsa. Namun yang lebih mengejutkan, bahwa kurikulum sekarang ini, sama sekali jauh dari tujuan berbangsa dan bertanah air, apalagi menyadari diri sebagai manusia karya Ilahi.

Aku ingat di satu malam perjumpaanku dengan Mas Sugeng Waluya, beliau berkata bahwa sejak puluhan tahun lalu, beliau melihat suatu rekayasa besar negara luar, ingin mengkondisikan kesadaran berbangsa dan bertanah air menjadi pudar. Pada waktu itu, beliau menyelidik dengan mata batinnya, ketika setiap senin pagi beliau berjalan-jalan, di seputar sekolah-sekolah dekat tempat tinggalnya. Tidak satu pun sekolah dasar yang ia lewati, pernah secara baik dan benar menyanyikan lagu kebangsaan kita, "Indonesia Raya". Semua peserta upacara senin pagi di semua sekolah itu, seperti menampakkan lagu duka kebangsaan Indonesia, seolah Indonesia Raya sudah tiada. Padahal temu seminar para guru seni sudah sering diadakan, sudah pasti penyuluhan sang pembawa seminar, adalah korban bentukan suatu kekuatan, yang inginkan negara kita tumbang.

Sambil kuhisap lintingan rokok tembakau asli bumi Jawa, aku tengah menggambarkan semua negara yang curang tadi akan berjatuhan, seperti tadi malam kulihat banyak bintang-bintang berjatuhan. Bintang-bintang itu berjatuhan karena sombong, ingin menjadi bulan, mereka lupa bahwa bulan adalah wujud kuasa matahari pada waktu malam. Maka bintang-bintang itu kehabisan daya pijar, lunglai dan secara berurutan berjatuhan. Demikian pula siapapun, apapun, dimanapun, yang menentang karya nirokhman-nirokhim Sang Khalik, mereka semua akan musnah, bahkan menjadi debu pun tidak diperkenankan-Nya.

Shooting stars, bintang jatuh



Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com