Telisik Cinta, Tabir Semu Terbuka, Bagian 77

Maka ketika 'ku berkunjung ke warnet, aku lihat banyak anak-anak di bawah usia, membuka situs yang sia-sia tanpa guna. Mungkin pula di tiap SD, SMP, dan SMU, para guru tidak teliti batin, menelisik fungsi tugasnya sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar, karena punya semangat uang harus dikejar. Aku banyak dengar dari para guru yang cukup usia, bahwa sekarang guru-guru baru yang muda, orientasinya adalah profesionalisme, bukan kesadaran panggilan mengabdi, mencerdaskan batin dan raga anak bangsa. Namun yang lebih mengejutkan, bahwa kurikulum sekarang ini, sama sekali jauh dari tujuan berbangsa dan bertanah air, apalagi menyadari diri sebagai manusia karya Ilahi.
Aku ingat di satu malam perjumpaanku dengan Mas Sugeng Waluya, beliau berkata bahwa sejak puluhan tahun lalu, beliau melihat suatu rekayasa besar negara luar, ingin mengkondisikan kesadaran berbangsa dan bertanah air menjadi pudar. Pada waktu itu, beliau menyelidik dengan mata batinnya, ketika setiap senin pagi beliau berjalan-jalan, di seputar sekolah-sekolah dekat tempat tinggalnya. Tidak satu pun sekolah dasar yang ia lewati, pernah secara baik dan benar menyanyikan lagu kebangsaan kita, "Indonesia Raya". Semua peserta upacara senin pagi di semua sekolah itu, seperti menampakkan lagu duka kebangsaan Indonesia, seolah Indonesia Raya sudah tiada. Padahal temu seminar para guru seni sudah sering diadakan, sudah pasti penyuluhan sang pembawa seminar, adalah korban bentukan suatu kekuatan, yang inginkan negara kita tumbang.
Sambil kuhisap lintingan rokok tembakau asli bumi Jawa, aku tengah menggambarkan semua negara yang curang tadi akan berjatuhan, seperti tadi malam kulihat banyak bintang-bintang berjatuhan. Bintang-bintang itu berjatuhan karena sombong, ingin menjadi bulan, mereka lupa bahwa bulan adalah wujud kuasa matahari pada waktu malam. Maka bintang-bintang itu kehabisan daya pijar, lunglai dan secara berurutan berjatuhan. Demikian pula siapapun, apapun, dimanapun, yang menentang karya nirokhman-nirokhim Sang Khalik, mereka semua akan musnah, bahkan menjadi debu pun tidak diperkenankan-Nya.

Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Telisik Cinta, Tabir Semu Terbuka, Bagian 77


