Menyusuri malam lengang di Plengkung Gading

Hening aku menyusuri malam minggu, lengang menapak tilas ruas jalan Jogja, ketika orang-orang ke peraduan petiduran, lena setelah seharian menuruti kemauan. Sugeng Waluya di dada serta denganku, barisan kuat kalimat cerita liris prosanya bagai pasukan lengkap infanteri bersenjata, merebah-lenyapkan keraguanku. Aku sudah tidak ragu lagi, paras keagungan kota Jogja sudah berkurang banyak sekali, kiri-kanan jalan cuma onggokan rancang bangun segiempat tanpa estetika seni. Satu-satunya yang sungguh terjaga asli, ya jalanan yang sedang aku tapaki, dengan sepeda Fongers vintage sejati, kepunyaan eyang puteri. Ternyata benar, perbudakan sudah hampir merata di semua strata, baik di tinggi pejabat ibu kota, juga pada pamong praja di Pemda, serta juga orang kecil jelata. Para pengemis pun tak kalah jumlah di semua sektor wiraswasta, ada property developer, pengusaha dagang mal, pasar swalayan, semua harus berlomba memberi makan setoran kepada raja pengemis papa di dunia perbankan. Rupanya sampai hari ini kita tidak menyadari bahwa kita dibudaki, oleh raja-raja besar yang merana, mereka adalah negara-negara yang sangat kurang kemampuan hasil tanahnya.

Fongers vintage malam hari di Jogja

Dengan banyak hilangnya heritage suasana Jogja, daerah istimewa ini jadi luntur aura pesonanya. Kota ini akan sepi dan merugi, secara ekonomi tidak mandiri, kita tidak bisa berdagang dan memperdagangkan kekayaan budaya dan tanah negeri kita sendiri. Kalau kita mau rendah hati, lalu menengok wajah kita sendiri, apa yang kita beli di ramai dunia dagang pasar swalayan, kita cuma sedang dipaksa jadi pelayan. Kita tengah membeli hasil bumi kita, semua besarnya laba jatuh pada negara perekayasa, penghasilan kita jadi minim sekali, cuma karena lisensi. Belum lagi kelicikan sistem perpinjaman uang bunga berbunga, banyak tanah subur sumber pangan di desa yang tersita, karena peminjam dikondisikan tidak bisa mengembalikan, sedang tanah mereka terlanjur jadi agunan. Wah, kalau saja kita mau sadar, dan meniru daerah yang beribu kota Denpasar, heritage-nya Jogja dalam tata arsitektur desa dan kota, terjaganya pesona dan kekuatan agriculture, juga gagah anggun tampil tradisi segala seni Jawa Jogja di tiap hari, kita tengah jadi sukses besar sebagai pedagang, arus besar wisatawan niat datang membeli dengan senang hati, karena kebutuhan mereka terpenuhi, dan kita tidak tertipu lagi.

Tidak ada orang di muka bumi yang tidak kagum akan makanan natural organik, tarian goresan batik di puteri dan jaka, tampil tiap hari pada wajah istimewa Jogja. Tata kota yang asli dan asri akan membuat kejenuhan tamu mancanegara sirna, mereka merasa senang terayomi, lalu jadi corong madu manis berita, akhirnya semua kebutuhan ekonomi merata terpenuhi. Semua itu terjadi dengan cepat dan alami, karena indah Jogja meraja di tiap hati orang dari bermacam pelosok negeri. Mereka datang untuk mencari dan membeli, segala sesuatu keindahan hati dan bermutu materi, yang tak ada di negeri mereka sendiri.

Ubi jalar ungu

Rupanya semangat Sugeng Waluya mengajakku menepi, untuk sekedar makan ubi dan minum kopi. Maka, cinta Sugeng Waluya pada Jogja, kuat mengental dalam diriku, manis ubi ungu merapatkan kawanan temanku yang bertubuh indigo halus, jadi ribuan perisai melindungiku. Aku tak heran, kalau semua energi jahat yang ingin mencelakaiku, mental dan binasa. Sekali lagi, aku bersyukur kepada Sang Hyang Tunggal, karena berkenan merancang-cipta aku sebagai abdi-Nya. Semua kekuatan yang menentang kesantunan istimewanya Jogja dan keindahan di semua daerah Nusantara, adalah kedurjanaan yang mencobai Tuhan. Barangsiapa mencobai Tuhan, ia akan hilang secara roh, jiwa, dan raga, itulah ketetapan Allah di tiap zaman. Sesungguhnya ketetapan itu tidak ada, yang ada adalah perubahan. Maka, ketetapan ngawur cara pikir makhluk serupa manusia, akan berubah menjadi sirna, di keagungan Mahacinta. Di sinilah dinyatakan, perubahan adalah ketetapan, hingga yang menghuni bumi adalah sungguh manusia, karena manusia citra karya agung Maha Pencipta.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com