Sepertinya malam ini selaras dengan ingatanku, akan barisan kalimat liris prosa Sugeng Waluya:

Langit jingga di Jogja, tenang jiwa terpana. Cantiknya remang malam manja, Jogja anggun dirias purnama. Kulangkahkan kaki menapakkan jiwaku, menyusuri taman bunga sejarah Jogja. Keanggunan budayanya menata Jawa, merangkai untaian gerak cinta Nusantara.

Langit jingga, Jogja anggun dihias purnama

Di lantun gendhingan Ambar Ketawang, cintaku menerawang menembus pandang, paras elok agung wajah kekasihku Jogja. Akan kubuka cadar tirai kelabu di bangsal kereta kencanamu, karena cadar itu palsu berdebu, biar puas hatiku mengundang cinta-cinta kagum memandang Jogja pangeranku, megah mempesona berkereta kencana.

Kereta kencana dan pendapa joglo besar Ngadisuryan

Termenung aku, ungu ubi berdansa di kunyahanku, memutus-retaskan tenun jalinan rasa makanan dari luar manca negara, sebab palsu citarasanya, juga semu kandungan gizinya. Ungu kentang jawa ini, begitu kaya manfaat dan legit dirasa, buat apa mengenang tawarnya kentang yang digoreng mentega, mereka cuma kehambaran sia-sia. Duhai dikau Jogja sesembahanku, perkenankan aku memanggil laskarku, mengabdi me-ngadisuryan cinta, di jati dirimu Jogja.

Sedang aku tenang merokok sambil menghirup harum kopi di warung angkringan, aku dengar suara Humber berdecik-decik mendekat datang, membuatku menoleh pandang. Ahai, ternyata keponakanku Palguna, sambil ia menyapa santun, penyangga standar pun tegak, karena gerak kakinya berayun.

“Om, enak ya ubinya? Aku mau dong, Om. Kalau boleh, sekalian kopinya ya, Om!”

Aku mengangguk menanggapi sapanya, lalu berdampingan kami duduk di kayu lincak, ramai padat pembicaraan kami bertari gerak. Ia bercerita, bahwa ia dulu mengenal Sugeng Waluya, ketika kekasihnya kesulitan bergerak, sebab di usia muda lututnya sudah berkerak. Palguna tahu tentang Sugeng Waluya dari orang-orang sakit yang kini sembuh karena ditolong olehnya. Ia bertutur, suatu sore, ia dan kekasihnya, Wara Andhini, berkunjung ke sebuah kampung di seputaran Godean, untuk menemui Sugeng Waluya, karena butuh bantuan. Maka dalam pertemuan itu, ramah Sugeng Waluya tanpa banyak kata, dengan kasih di basuhan kedua tangannya, sakit di lutut Wara Andhini pun hilang sirna. Takjub mereka berdua, sungguh ajaib tabib Sugeng Waluya ternyata. musica sacra-nya berkidung, gerak hatinya menarikan tangannya, sinar kudus keunguan memancar dari telapaknya, ringan hinggap kesembuhan pada si sakit, membawakan senangnya keselamatan.

Healer hands

Ada yang aneh di wajah Palguna, aku menangkap kesedihan pada parasnya. Batinku mengatakan, pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Lewat gumam pelan pembicaraan, akhirnya aku memahami, apa yang menjadi sedih kenangan di hati Palguna. Palguna bertutur, sudah habis waktu dan menipis biaya Wara Andhini dan keluarganya, guna mencari solusi, supaya sakit Wara Andhini teratasi. Bahkan ketika sekali lagi Wara Andhini pernah sakit dan menginap di rumah eyang, ia lihat Sugeng Waluya sebagai bapa memeluknya, sampai laju kesehatan datang, sakit si Wara Andhini hengkang.

Ia juga cerita, perjalanan percintaannya dengan Wara Andhini kandas, bukan karena tidak baik, namun sebab tuntas berkaryanya misteri Sang Khalik. Palguna mengurai cerita, bahwa setelah kesembuhannya, Wara Andhini dengan teman-temannya ikut bergabung ke misi Sugeng Waluya, untuk mementaskan rangkaian tari budaya Jogja. Seiring dengan gerak waktu bergulir, semangat yang tak murni pun tersingkir. Keinginan untuk terkenal dan terpandang, nisbi pada nurani Sugeng Waluya. Rupanya tidak semua teman Wara Andhini kuat mengikuti misi itu, karena setia dalam perjuangan budaya, bukanlah rasa senang dan tidak senang, namun cita-cita kebangkitan budaya, murni diutamakan. Sugeng Waluya pun tidak menyalahkan mereka, suatu saat yang tepat, mereka akan kembali ke misi, kata dia.

Aku tangkap di suatu laku gerak cerita Palguna, ia sampaikan padaku, bahwa Sugeng Waluya selalu mendaraskan pujian dan berkat, bagi Wara Andhini dan teman-temannya. Yang membuat sedih lagi, kini Wara Andhini dengan Wahyuni Membawati, teman barunya, sedang terjebak di dunia ilusif perdagangan uang, dengan alasan, supaya punya kemandirian yang sesungguhnya tidak mandiri, karena sudah pasti akan tergantung pada rekayasa luar negeri.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com