Jarum panjang menunjuk ke angka duabelas, diselarasi jarum pendek ke angka tiga, pada posisi itu jarum-jarum tadi bersinar biru ungu, merias lingkaran jam tangan Titus di pergelangan tangan kiriku. Suasana remang kamarku, karena kutidurkan lampu, Palguna rebah dengan desah ramah dan tentram pasrah di sebelahku, aku Arjuna sedang terbang secara sukma, dihela-layang sayap para malaikat, yang juga tengah sibuk mengagumi liris prosa Sugeng Waluya. Mereka mengidungkan kudus pujian kepada Allah, sambil menyatakan bahwa Sugeng Waluya terberkati, karena ia datang dalam nama Tuhan.

Di liris prosa slamet santosa sang Sugeng Waluya, memang ia tokoh Peng An, si pembawa pedang emas bermata tiga, yang gagah ringkas megah tersandang di pinggangnya. Setiap mata pedang punya artian makna galih kencana, kemuliaan Surga bertahta di digdaya angkasa raya, digdaya angkasa raya menghidupkan taat kehidupan “meng-ada” dalam buana. Wilayah Surga adalah kesatuan wujud kekuatan cinta – cipta – karsa, maka dengan kegagahan maha satria, maha agungnya Surga ada pada megah tata langit angkasa, disertai maha adhi wujud elok bumi. Oleh karena itu, tidak ada manusia dan seluruh makhluk, baik yang kelihatan dan tidak kelihatan, yang bisa memberi batasan tentang keberadaan Sang Hyang Tunggal. Siapapun, apapun, dimana pun, yang mencoba mengungkung cinta – cipta – karsa Beliau, akan sia-sia lalu menuai kebinasaan roh – jiwa – raga, murca.

Sayap-sayap malaikat menggaungkan kisah Sugeng Waluya, kepakan-kepakannya meluncurkan harunya Sugeng Waluya di perjalanan cintanya. Kedalaman cintanya kepada Tuhan, diejawantahkan dengan mencintai bumi, bersamaan dilakukannya percintaannya mengasihi semua makhluk dan manusia tanpa bermegah diri. Bahkan dengan wujud kemanusiaannya, ia tampilkan senyum cinta, menanggapi semua cercaan orang-orang yang menolaknya, yang memberi gelar padanya “si orang gila”.

Ialah si orang gila, yang dipaksa untuk hanya dapat berdiri di tengah-tengah simpang perempatan, sementara pada semua simpang, wujud kepentingan cinta diri tiap orang menghunjaminya dengan sumpah serapah. Hanya segelintir manusia berhati nurani, dapat mengerti dan memahami Sugeng Waluya di sejati diri. Angkasa raya dan bumi menangiskan keharuan untuknya, maka dengan cepat jalannya waktu kehidupan dalam beberapa jangka dekat ini, semua bumi menata diri. Bumi darat, bumi laut, bumi angkasa, sempurna seperti sediakala, para pemuja berhala cinta diri dibenamkan sebagai pupuk tumbuhnya dunia baru.

Hai sekalian kamu, siapakah kamu berani mengatur wilayah cinta, menurut ukuran kepentingan kesenangan dirimu? Tidak ada keselamatan bagimu sekalian. Bukan salah Tuhan, tetapi kamu sendiri yang menanam, mendepak cinta dan menyembah uang. Kamu sendiri yang memilih illah-illah palsu, tuhan-tuhan semu berwujud ilusi uang, sementara di tiap rumah ibadat pada hari ibadah, kamu berpamer derma palsu, dan kamu pikir Allah buta, tidak melihat itu semua. Karena derma-derma sejati adalah karya cinta nuranimu, tanpa kepentingan diri mencintai sesamamu dan seluruh makhluk, menjaga tanah bumi bukan untuk kamu kuasai. Memangnya sekalian kamu punya apa, nyawa tak bisa buat, otak tak bisa buat, wadag raga tak bisa buat, kamu semua itu kere, karena merasa mempunyai kuasa atas dirimu dan orang lain.

Aku Arjuna Indra Putra, tidak mau berkuasa atas diriku dan lain orang, berpikir mengatur otakku sendiri, gamanglah aku. Aku menyadari bahwa penuh dosalah aku, maka sudah layak dan sepantasnya aku mengabdi kepada Beliau, Allah semua makhluk. Bukan untuk mencari selamat, karena itu palsu serta penuh pamrih, namun gerak nurani sadar diri tanpa maksud tersembunyi, mencinta Ilahi. Aku hanya tahu bahwa bodohlah aku, kalau kuletakkan cintaku pada berhala uang. Aku hanya nisbi, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, sebab hanya Tuhan yang Maha Segala Sempurna, Suci adaNya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com