Aku Arjuna Indra Putra, riang merenungkan pewartaan para lelembut, makhluk halus bala tentara Surga, malaikat-malaikat juga roh-roh kudus leluhur semua bangsa. Mikhail, Jibril, Isrofil, memimpin seluruh malaikat tentara Surga, dan malaikat-malaikat itu memimpin himpunan roh leluhur semua bangsa. Maka kewibawaan Surga terwujud di dalam semua pasukan Sang Maha Khalik itu, lalu langit dan seluruh laut serta darat bumi, bergabung bertempur bersama mereka. Hanya satu tujuan pertempuran ini, memusnahkan dan melenyapkan kejahatan dari muka bumi, semua tipuan politik dan ekonomi bukanlah apa-apa, sangatlah pasti pantas murca saja. Sudah terlihat di dunia berita, bahwa kehancuran si jahat dan pengikutnya mutlak adanya, yaitu semua negara yang menyembah ilah palsu, sang berhala politik dan ekonomi, sedang maksimal defisit anggaran pendukung dunia berhala mereka.

Palguna terbangun dari tidurnya, matanya menatap kepadaku, bahasa nuraninya mengajakku berbicara tentang aku dan dia, haruslah patuh kepada Sugeng Waluya dan misinya. Mengikuti serta berjuang untuk misi kebudayaan memanusiakan manusia, menjalankan budaya welas asih, berarti bersatu dengan si gila Sugeng Waluya. Bersatu dengan kegilaan Sugeng Waluya, adalah wujud kepatuhan akan kehendak mengabdi kepada kebijaksanaan Ilahi. Karena yang sesungguhnya gila ternyata dunia ramai, yang mengagumi kemegahan diri, yang mengabdi pada uang dan kuasa politik, semu arti norma dan moral, itulah kegilaan sejati menyembah ilusi.

Dunia ilusi ini banyak ditekuni orang, mulai dari anak berumur 5 tahun sampai anak berumur di atas 50 tahun. Setiap hari, hidup mereka hanyalah bentuk kegilaan pikiran mereka, untuk berprestasi di dunia ilusi, sejak dari sekolah dasar sampai menginjak perguruan tinggi, ada juga di dunia profesi, baik wiraswastawan maupun pegawai negeri. Di dalam dunia gila yang penuh ilusi norma dan moral, semua orang saling menjegal, setiap orang adalah rival bagi yang lainnya, oleh karena itu kelakuan mereka harus saling begal. Kelucuan juga kenaifan, bentuk kebodohan orang-orang dari dunia ilusi itu, mereka asyik sekali sinis tersenyum, ketika melihat orang-orang berhati nurani, berbuat kasih kepada orang yang susah. Bagi mereka, tindakan mencintai semua makhluk dan manusia serta melestarikan alam semesta, adalah perbuatan hina.

Dahulu aku Arjuna Indra Putra, pernah menjadi makhluk bodoh penyembah kadigdayan berhala uang, juga pencari semu ketenaran kejar tayang. Aku bersyukur kepada Tuhan, lewat misteri agung kebijaksanaan-Nya, dilebur-Nya aku dan dibentuk ulang seturut kebijaksanaan-Nya. Misteri itu mengejawantah sewaktu aku jatuh susah, pertolongan datang dari orang yang aku anggap tolol dan rendah. Lewat peristiwa itu, mata hatiku terbuka, mata pikirku dicerahkan, kemudian tingkah lakuku kembali belajar berjalan, mengarungi kebenaran dunia kehidupan. Aku pun dengan gontai meninggalkan dunia lama, namun sesungguhnya aku terhindar dari dunia kematian, lalu sampailah aku menapak di dunia baru, yaitu kebenaran dunia kehidupan, dunia cinta kasih yang akan merajai seluruh dunia.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com