Dunia Cinta yang Akan Meraja, Bagian 82
Palguna terbangun dari tidurnya, matanya menatap kepadaku, bahasa nuraninya mengajakku berbicara tentang aku dan dia, haruslah patuh kepada Sugeng Waluya dan misinya. Mengikuti serta berjuang untuk misi kebudayaan memanusiakan manusia, menjalankan budaya welas asih, berarti bersatu dengan si gila Sugeng Waluya. Bersatu dengan kegilaan Sugeng Waluya, adalah wujud kepatuhan akan kehendak mengabdi kepada kebijaksanaan Ilahi. Karena yang sesungguhnya gila ternyata dunia ramai, yang mengagumi kemegahan diri, yang mengabdi pada uang dan kuasa politik, semu arti norma dan moral, itulah kegilaan sejati menyembah ilusi.
Dunia ilusi ini banyak ditekuni orang, mulai dari anak berumur 5 tahun sampai anak berumur di atas 50 tahun. Setiap hari, hidup mereka hanyalah bentuk kegilaan pikiran mereka, untuk berprestasi di dunia ilusi, sejak dari sekolah dasar sampai menginjak perguruan tinggi, ada juga di dunia profesi, baik wiraswastawan maupun pegawai negeri. Di dalam dunia gila yang penuh ilusi norma dan moral, semua orang saling menjegal, setiap orang adalah rival bagi yang lainnya, oleh karena itu kelakuan mereka harus saling begal. Kelucuan juga kenaifan, bentuk kebodohan orang-orang dari dunia ilusi itu, mereka asyik sekali sinis tersenyum, ketika melihat orang-orang berhati nurani, berbuat kasih kepada orang yang susah. Bagi mereka, tindakan mencintai semua makhluk dan manusia serta melestarikan alam semesta, adalah perbuatan hina.
Dahulu aku Arjuna Indra Putra, pernah menjadi makhluk bodoh penyembah kadigdayan berhala uang, juga pencari semu ketenaran kejar tayang. Aku bersyukur kepada Tuhan, lewat misteri agung kebijaksanaan-Nya, dilebur-Nya aku dan dibentuk ulang seturut kebijaksanaan-Nya. Misteri itu mengejawantah sewaktu aku jatuh susah, pertolongan datang dari orang yang aku anggap tolol dan rendah. Lewat peristiwa itu, mata hatiku terbuka, mata pikirku dicerahkan, kemudian tingkah lakuku kembali belajar berjalan, mengarungi kebenaran dunia kehidupan. Aku pun dengan gontai meninggalkan dunia lama, namun sesungguhnya aku terhindar dari dunia kematian, lalu sampailah aku menapak di dunia baru, yaitu kebenaran dunia kehidupan, dunia cinta kasih yang akan merajai seluruh dunia.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com


