Winata Kajengan nama orang itu, dialah pemahat kayu. Lewat gerak tangannya, daya hatinya menatah rupa kayu menjadi karya seni, dalam bentuk ukiran meja kursi, sampai relief cerita wayang di gebyog pemisah ruang tamu dengan ruang keluarga di rumah Eyang. Sebagai musisi yang merasa sudah tenar, aku remehkan dia, karena pekerjaannya sudah ketinggalan jaman. Aku ingat waktu itu, Winata Kajengan tetap tenang mendengar cemoohanku, seakan ledekanku jadi pupuk, menyuburkan senyum hatinya menatah kayu. Aku beranggapan, pekerjaan menekuni seni kayu tidak bisa merangkul banyak duit, dan pasti untungnya sedikit.

Saat itu, bagiku pertunjukan musik di dunia panggung dan layar kaca, adalah lahan yang subur bertumbuhan uang dan ketenaran. Simpanan uang di rekeningku melimpah-ruah, aku berpetualang menghamburkannya, sok jadi Janaka berburu anak dara. Sampai satu saat, aku ditelan hutang dalam belitan kredit bank. Banyak aset kekayaanku tersita untuk melunasi hutang. Hingga hampir habis terjual rumahku, belum juga lunas hutangku. Winata Kajengan datang mengunjungiku, diberinya aku pertolongan pelunasan tanpa agunan, ia juga tidak ingin uangnya aku kembalikan. Dengan kekayaan hatinya, dilunasilah semua hutang di bank, uangnya meluncur dengan cinta, masalahku tuntas, jiwaku merdeka.

Sebagai anak yang dicipta dan lahir memiliki kemampuan supranatural, aku Galuh Arjuna Indra Putra sombong, mengabdi kepada kebenaran Sang Cinta jadi terlupakan. Rupanya Sang Hyang Widhi Wasa menyatakan kemutlakan kuasa cinta-Nya, lewat perbuatan Winata Kajengan kesombonganku dilebur, dicetak baru menjadi tulus Arjuna putra Batara Indra. Sejak saat itu, aku diperintahkan untuk takluk menekuni pengabdian metafisika supranatural pemberian Sang Maha Dewa, Allah sendiri, tak terikat pamrih apapun dalam semua tindakanku.

Rupanya sejarah peristiwa kelahiran baru Galuh Arjuna Indra Putra, merasuki dunia batin Palguna yang kini ada di hadapanku, gerakkan berpadunya dua mata hati kami, meniru langkah laku Sugeng Waluya, menatahkan budaya estetika cinta di seluruh Jawa Jogja, dan nanti seluruh Nusantara, lalu menahtakan cinta meraja di seluruh dunia.

Kami tahu dari para sahabat lelembut makhluk bala tentara surgawi, pada peristiwa bertahtanya Cinta Ilahi, banyak manusia, bayi, tua – muda, jejaka – dara, hasil perjanjian keturunan menyembah berhala dalam segala rupa, akan musnah sirna roh, jiwa, dan raga. Semua kejahatan yang menyamar dalam bentuk semua norma dan moral yang serba samar, tidak boleh ada di dalam dunia. Pada waktu itu, seluruh gagah dan cantik agung heritage budaya Jawa Jogja, tampil sangat apik bertahta tata di semua pelosok Jogja dan Jawa. Lalu pesona keagungan heritage budaya manusia baru, akan memimpin bumi Jogjakarta dan Jawa serta seluruh dunia. Kalau begitu, dari visi penglihatan lewat para sahabat bala tentara Surga, hanya satu kesan yang kami terima, selamat datang dunia baru cinta nyata, selamat pisah dunia lama memasuki neraka.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com