Winata Kajengan adalah karya nyata misteri Sang Ilahi yang mewujud di bumi, sebagaimana pula Sugeng Waluya, Jaka Satria Sriwedari, Kenya Maryati Dewi, Warta Pamarta, Palguna, dan Basuki Raharja, si penjaja makanan angkringan. Mereka semua memasuki ranah batin kehidupanku sebagai putera sulung Indra, si Janaka abdi Sang Cinta, Galuh Arjuna Indra Putra, raja pembunuh naga, murid setia Sugeng Waluya.
 
Jauh sebelum kepulanganku ke Jogja, Sugeng Waluya sudah memimpin didik jiwaku sebagai Arjuna, lewat estetika sastra liris prosanya, yang kuterima dari tangan Sumarsih, sang sumur cinta kasih, ibuku yang terkasih. Sedang ibuku sendiri mengetahui agung indah liris prosa itu, ketika Eyang Wara Ratu Pangastuti membawa salinan liris prosa sastra Sugeng Waluya, sewaktu ia mengunjungi kami di Jakarta. Pada waktu itu, bersamaan dengan Mami Sumarsih selesai membaca liris prosa, ada petugas pajak datang, melaporkan lunasnya pembayaran pajak listrik dan rumah kami. Aku ingat wajah ibuku menjadi pias takjub sewaktu petugas pajak itu bercerita, bahwa seseorang berkemeja ungu dengan gambar hati merah muda, ramah serta ikal panjang rambutnya, telah membayar lunas hutang pajak yang berhubungan dengan rumah kami. Kata ibuku, orang itu adalah perwujudan dari indera Indra, Bathara Khalik dari semua dewa, atau Allah yang mengejawantahkan rupa cinta-Nya.
 
Kenangan itu begitu dalam membekas di mata hatiku, yang kini mulai diijinkan terkuak, ketika aku berjumpa Sugeng Waluya di Jogja. Rupanya semua sosok cerita sang petugas pajak di Jakarta, begitu tandas kasat mata di cara tata laku dan tata busana Sugeng Waluya. Oleh karena itu, pada waktu aku berjumpa dia, inti kesadaran jiwaku, yaitu rohku, melihat Sugeng Waluya adalah sumber kekuatan batinku, jika dia Indra, maka aku Arjuna adalah replika kehendak kebijakannya.
 
Dalam beberapa perjumpaan dengannya, Jogja jadi begitu transparan di pandangan mata hatiku, semua cadar tipuan sang samar-samar yang buruk rupa gendut tanpa tata, terkuak habis terbongkar. Walau oleh sebagian orang, sang samar yang bersembunyi di balik baju normatif yang hampir lepas semua kancingnya menahan sosok serakahnya, dia itu idola, bagiku dia hanya narapidana. Karena keserakahannya, ia diturunkan dari Nirwana oleh Sang Maha Dewa, namun bukannya insyaf, malah sok beralih rupa laku, merayu para satria supaya berlaku keliru. Tokoh ini diejawantahkan oleh para pembenci keutuhan nusantara di masa Majapahit, karena dalam paham Hindu Majapahit, cerita Mahabharata tentang mahasatria Pandawa, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, hanya banyak dibimbing oleh Kresna, Sang Wishnu yang bijaksana. Dengan liciknya para wali kebajikan samar-samar itu, merusak tatanan keutuhan Nusantara Majapahit, sehingga membuat murka Sang Gajah Mada, dan hengkang meninggalkannya.
 
Walau karena licik sang pengikut samar-samar itu, nusantara Majapahit terpecah-belah, menggulirkan Pajang, lalu berganti Mataram, kedigdayaan agung nusantara akan terwujud kembali, dengan datangnya Gajah Mada lagi, merupa dalam Sugeng Waluya. Intuisiku mengatakan, kebangkitan budaya welas asih, suci hati, halus budi, laku terpuji, tengah menganyam hati kawula alit di Jogja dan seluruh nusa, jadi benteng istana tempat bertahta kehendak Sang Maha Khalik, memimpin Nusantara dan dunia.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com