Aku – Galuh Arjuna Indra Putra, dan Palguna keponakanku, menjelang pagi ini, diperkenankan menjadi Permadi, yang sedang mengadakan perjalanan perenungan batin Arya Bimasena, mencari jati dirinya di samudera kehidupan. Dalam pencarian itu, Arya Bimasena akhirnya bertemu dengan Dewa Ruci, sang sejati dirinya sendiri, serta menuai tirta perwitasari. Sesungguhnya, apa yang dilakukan Arya Bimasena adalah sedang mengikuti laku si sulung Pandawa, Yudhistira kakaknya. Karena pada Yudhistira, kekhawatiran dan juga cinta diri sudah mati, maka tirta perwitasari – sang air kehidupan, sesungguhnya adalah dirinya sendiri, ditandai dengan darahnya yang putih dan harum wangi.

Dalam perjalanan batin ini, kami sedang dituntun Rohullah Wakalimatuhu, yang mengejawantah dalam sosok Sugeng Waluya. Dia hidup di dalam hati kami, sebagai Nur Aini, agar secara runut, dibawalah jiwa kami, menekuni dunia sembah pengabdian kepada Sang Hyang Widhi. Di dunia pengabdian itu, tata inti estetika merupa di laku welas asih dan menjauhi pamrih. Apa yang kami terima di tiap perjumpaan dengan Sugeng Waluya, sang Yudhistira, adalah tuaian panen kebahagiaan sejati, yang diusung cinta kasih, berparas kereta kencana nirwana.

Bukankah banyak di luar sana, ketika lonceng bergema, bedhug bertalu, stupa berias dupa, elok wangi bunga menghias pura, padat semerbak ratus dan darasan doa di pertapaan, di semua tempat itu, darasan kekhawatiran dan derasnya permintaan berkah, sedang memerintah Sang Hyang Widhi Wasa. Bahkan, ramai beterbangannya asap hio dan berkepaknya rapalan kwa mia, sedang berbondong bersamaan, mendiktekan kemauan manusia kepada Thian. Di situ nyatalah, makhluk-makhluk serupa manusia sedang mencoba menjadi Thian, dan memposisikan Thian sebagai pembantu mereka. Tipuan si jahat yang serba samar dalam segala pemahaman semu normatif, tengah menampakkan kegemukannya, karena kenyang keserakahan. Banyak sekali orang tanpa sadar bertuhankan kepalsuan samar-samar, si jahat yang bersembunyi di balik institusi penyembah kadigdayan, walau tampilnya selalu arif nampaknya.

Kalau kini alam semesta dan bumi bergejolak mewartakan Sabda Allah, yang menata dengan gerak bahasa alam, lautan penuh gelombang pasang, gunung-gunung berapi bersahutan menumpahkan lahar, tanah berguncang membanting banyak perkotaan dan desa, suhu dan musim tidak harmonis, panenan pangan gagal habis; semua itu dikarenakan, seluruh alam semesta adalah wujud Firman Allah yang hidup, dan Firman Allah tidak bisa dirantai dan dipenjarakan oleh kepongahan makhluk-makhluk serupa manusia.

Akhir-akhir ini, negara-negara penghasil dan penggubah giok tengah porak-poranda, pertikaian rakyatnya sedang berkembang biak, sebab dipupuk oleh banjir bandang, disiangi gelombang pasang, ada kalanya dicangkuli dengan tanah kuat berguncang, mau mengunyah dan menelan juga susah, jumlah pangan merosot mendekati punah. Kehebohan itu semakin semarak, ditingkahi kabar berita dari negara-negara pendewa perang bintang dan penyemai buah beri hitam, dengan teknologi informatika mereka saling jegal, prediksi teknologi nuklir malah membuat keamanan mereka terkilir, kepandaian mereka yang sok mau mengatur musim malah menuai bermacam badai panas dan dingin. Sama juga di tempat-tempat itu, kekurangan pangan jadi sandang tampilan kemiskinan. Mereka semua, secara cepat dan pasti, sedang digiring ke tungku pemurnian, supaya tubuh mereka meremajakan mineral bumi, yang mereka sia-siakan tiap hari.

Ramai dunia lama para penyembah berhala kekuasaan dan uang, jadi hingar-bingar, ditimpali bebunyian berita negara-negara tempat bertumbuhnya onta, kurma, dan padang pasir. Pertikaian besar-besaran sedang menggeliat dan bertumbuh cepat di tiap hari, sebab utamanya adalah keserakahan, dan mereka pikir, Allah punya mereka sendiri. Sudah layak dan sepantasnya, Allah SWT dengan bijak menyatakan kekuasaan-Nya, bukan untuk diatur oleh hegemoni politik dan ekonomi mereka.

Sering kali, orang-orang ingin bertemu dengan Tuhan, sayangnya masih berkendara kekhawatiran dan permintaan, rasa syukur ditambatkan di belakang - lalu dibuang. Ketika kita bersikap seperti ini, maka kita hanya penekun ritual tanpa makna esensial. Alangkah baiknya, kita bisa masuk ke Puri Brata, seperti Arya Bimasena mengalahkan dirinya, lalu lahir baru, sebagai Bratasena. Pada peristiwa perenungan ini, Galuh Arjuna Indra Putra laksanakan cinta, walau tak pernah sempurna, tetapi tulus tanpa pamrih, belajar lakukan cinta.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com