Aku lihat daun-daun gugur berputaran melayang, melenggang sebelum jatuh, juga seakan hati-hati menapakkan kekuningan helainya, di atas hijau rerumputan jepang. Pada gerak putaran layang dedaunan tadi, wajah teduh kekasihku tersenyum sejuk bersama keteduhan pagi. Cantik parasnya, sakral wangi harum tubuhnya, hangat halus kuning langsat juntaian tangannya memeluk rasa rindu di dalam dadaku, seirama sinar matahari pagi mendandani gerak angin sepoi, di beranda rumah eyang termenung aku sendiri. Kakiku menapaki tua ubin dengan motif mawar gotik putih-merah-emas, membuat gemas ingatanku akan Widhi Puteri Sasmita, gadis cantik pengikat hatiku, yang elok bagai pusaka trisula emas.

Di kedatanganku berlayar mengarungi samudera sejarah Ngayogyakarta, aku banyak melihat pundi-pundi indah adhi, yang masih mengapung di laut kelabu carut-marutmu, Jogja. Satu saat tak terkira, bersama cinta Widhi Puteri Sasmita, gagah agung welas asih Sugeng Waluya, aku mendapat kabar dari langit, para perompak perusak lautan budayamu, beremah-remah dimamah laskar agung berpedang kilau budaya, sampai punah. Berderapnya kabar itu mendatangiku hari ini, RX-King hitam menggeram, nampak gagah menatang Sugeng Waluya dan Kenya Maryati Dewi, pundi-pundi cinta budaya Jogja masuk halaman rumah eyang. Maka tiga mata cinta, bagai tajam tiga mata trisula emas, memacu budaya Jawa Jogja bangkit bergegas.

Tiga wajah mata cinta di cahaya surya sumirat pagi ini, menampilkan berkilau berlian diikat emban emas, menyampaikan suara cinta dengan halus tegas.

“Selamat pagi, Galuh!” ujar si lelaki.

“Hai, ‘met pagi!” timpal perempuan cantik yang duduk di sadel belakang Rexus King, sembari bergerak motor itu ke garasi, tampilan gagahnya selambang agungnya Sugeng Waluya.

“Mas Galuh, biasa... Kopimu tolong diseduh ya, aku kangen nih sama rasanya!” Sugeng Waluya mengutarakan keakrabannya kepadaku.

“Aku juga, Galuh. Biar tambah manis, tolong Mita suruh kesini ya!” Maryati Dewi menimpali.

“Wah... Maaf, Maryati, Mita lagi pergi ke Surakarta tadi pagi,” jawabku.

“Woo... Pantes, kenapa begitu romantis pagi ini kamu merenung!” Maryati Dewi menanggapi.

Kami bertiga masuk kembali ke beranda, lalu aku bergegas ke ruang tamu, memohon Palguna untuk membuat seduhan kopi di dapur. Kulihat langkah cepat Palguna berjalan, bagai pesat pasopati menembus jahatnya kepalsuan, maka aku percaya, di pagi ini, percakapan dengan Sugeng Waluya dan Maryati Dewi, menangkup buket mawar-mawar budaya cinta, dalam salutan keindahan rasa dan aroma kopi kedu utara. Seperti juga di ruang tamu ini, seturut perginya Palguna ke dapur, di pandanganku tampak mujizat mewujudkan haru. Di sudut ruang dekat gebyog, ada lukisan potret Sasmita, dia nampak cantik bergaun putih, berselendang biru menutupi kepalanya, bermahkota ikatan dua belas tiara, anggun membingkai kecantikannya. Dia sama serupa cantik Kenya Maryati Dewi, hari ini bergaun putih, dengan tiga mawar berwarna putih-merah-emas, sangat serasi dengan kerudungnya berwarna pelangi.

Ketika aku menengok ke arah beranda, Sugeng Waluya sedang melepas jaket dan helmnya, tampaklah rambutnya ikal berurai, wajahnya teduh, sewarna kemeja ungu berhias gambar hati merah berpendar. Sesungguhnya pagi ini, di kehangatan sinar fajar, di kedatangan tamu-tamuku ini, keindahan surgawi mendatangiku lagi.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com