Bertiga kami berbincang, di beranda, suara bahasa jiwa berkumandang, tanda bergeraknya relung hati kami, melahirkan makna hidup bakti. Suara Kenya Maryati Dewi sebagai panah Srikandi, meluncur tajam, menancapkan makna cinta budaya, menggugah aku – Arjuna, menerbangkan pasopati, dalam ribuan sandhi yudha kemasan, eloknya budaya diseni-tampilkan. Sugeng Waluya jadi manggala, menata larik pertahanan barisan syukur doa, pada tiap kalimat liris prosa, yang akan menempati jaringan warta budaya, di dunia informatika. Jaringan warta budaya itu adalah wujud persembahan patuh mengabdi kepada Tuhan, hormat mengangkat nilai budaya Jawa, dan bernama Jogja Penatah Cinta.

Sugeng Waluya dan Kenya Maryati Dewi sedang mengajak aku, untuk ikut mendaraskan doa syukur, juga mempersembahkan cita-cita kepada kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, kami yakin, kebijaksanaan Beliau yang akan meruntuh-jatuhkan bintang-bintang palsu, yang memancarkan sinar berita kepalsuan untuk merusak budaya kita. Bintang-bintang itu sering muncul melewati layar kaca, cerita layar lebar, surat kabar, dan akreditasi di kurikulum sekolahan. Kalaupun bintang-bintang palsu tadi berwujud dan jadi perangkat mata-mata di lelangitan, kami hakul-yakin, semua kekuatannya hancur terpuntir-pilin oleh kekuatan semesta langit dan bumi, karena diperintahkan oleh Manggalaning Ratu, yaitu Kehendak Kasih Allah.

Kenya Maryati Dewi juga bercerita, telah berjumpa Choliq Sidiq, seorang kyai dan ustad, yang sungguh soleh, ahli dan khatam, serta penuh menguasai syariat-tarekat-hakekat-makrifat, dia betul seorang ulama yang nahdlatul. Dalam kata-katanya, Maryati Dewi bercerita, bahwa ustad Choliq Sidiq beserta seluruh rekannya seantero Nusantara, hanya sungguh menyatakan iman mereka, jika tetap hormat menjaga NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut mereka, segala sesuatu kalangan atau kelompok yang menolak semua dasar dan tonggak saka-guru negara kita ini, dengan sungguh kuat hati, kaum ulama yang nahdlatul akan utuh bekerjasama dengan TNI, menghalau - dan memporak-porandakan sampai rata - penghianat negara kesatuan kita. Seperti dalam sejarah perjuangan bangsa, persatuan ulama seperti ini menjadi laskar tentara, yang bergabung dengan TNI di bawah pimpinan Jenderal Sudirman, menyatu dengan sandhi yudha Sri Sultan Hamengku Buwana IX, menyelamatkan bumi Jogjakarta, hingga utuh keberadaan NKRI.

Kyai Choliq Sidiq dan teman-temannya juga bercerita kepada Kenya Maryati Dewi, bahwa mereka sering mengadakan pengajian bersama, menghaturkan persembahan cita-cita menjaga Jogja dan Nusantara, kepada Allah SWT, karena mereka sangat mengimani, ridha Ilahi adalah kepemimpinan sejati. Mereka tidak mau bergerak hanya menurut kemauan mereka sendiri, sebab pergerakan membela tanah air ini haruslah perjuangan rakyat semesta Nusantara. Apabila secara serentak kesadaran seluruh ulama dari tiap institusi agama, sudah bersepakat maju bersama membela nusa, itulah tanda Sang Nirahman-Nirahim berkenan mewujudkan kebijaksanaan-Nya. Kelompok alim-ulama ini heran, gini hari kok masih ada kelompok kalangan yang merasa paling benar, tidak menghormati maha karyacipta Allah di kelompok lainnya, dan itu ada di sudut-sudut kota dan kampung di Jogja. Kata mereka - para ulama teman Maryati Dewi, bahwa kalangan kelompok seperti itu sebetulnya tengah menentang Allah dan ajaran nabi mereka sendiri. Kelompok seperti itu pasti cepat habis binasa berkalang tanah, karena merasa diri mereka menjadi ilah paling benar, Allah tidak akan memberi berkah.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com