Dalam suara bariton bersahaja merendah, Sugeng Waluya menyampaikan kalimat bahasa hatinya, “Galuh, sudah banyak komposisi yang kugubah dibawakan beberapa orang, yang kini terkenal dan banyak dipuja penggemarnya. Jangan kamu sangka aku tengah berlimpah uang sekarang, meskipun di tiap pentas, para penyanyi tadi mendapat upah nafkah yang berlimpah. Sedemikian pula record label yang membuat album musik bagi mereka. Aku merasa sedih, bukan hanya intelectual rights-ku yang dilanggar, mechanical rights-ku pun tidak dibayarkan. Tetapi yang pokok adalah, martabat kesenimananku dikoyak dan dihinakan, seolah karya cipta Allah, yang membuat kemampuan dalam diriku, sama sekali tidak dihormat. Yang aku tangisi adalah, orang-orang tadi membuang martabat kemanusiaannya sebagai citra karya Ilahi, demi ketenaran dan kekayaan mereka, mengambil karya gubah seorang penekun seni, dan dipakainya guna menyenangkan diri sendiri. Hal yang seperti ini, tidak hanya aku yang mengalami, tapi juga banyak para penggubah karya musik lainnya. Inilah pertanda, bangsa kita tengah menyemaikan kejahatan, dan mereka tidak sadar, tengah menanti badai degradasi mental dan moral di generasi berikutnya.”

Percakapan kami bertiga didengarkan Palguna, yang ikut menemani pembicaraan kami, mengenai estetika sejati sebagai manusia dan sebagai seniman.
“Wah, kalau begitu, bagaimana ya nasib komposer kita - Wage Rudolf Supratman? Okelah, Pak Wage Rudolf Supratman sudah pulang menghadap Tuhan, tapi bagaimana nasib keluarga dari seniman pahlawan ini?”

Wajah Palguna berkerut, menandakan banyak pertanyaan, akan penghargaan negara dan bangsa kita terhadap anak-turun komposer lagu kebangsaan kita ini. Aku lihat, bahwa sesungguhnya, ia banyak memendam kekecewaan, akan kebijakan petinggi negara ini di setiap strata. Mata batinku sepertinya pun tahu, bahwa banyak kawula alit generasi muda seperti Palguna, dan sesungguhnya mereka ini adalah laskar-laskar surga yang merupa wujud, pejuang-pejuang dunia baru yang damai di masa depan.

“Dik Palguna, adik jangan ikut-ikut ya! Harus bisa tidak berbuat curang, biar nanti adik bisa jadi pemimpin yang baik. Apabila Tuhan berkenan, lho!” Kenya Maryati Dewi bersuara halus, tanda keharuan melihat reaksi Palguna.

“Wah, Mbak Maryati... Kalau Palguna sih berusaha semaksimal mungkin, nggak mau niru orang-orang kacau itu. Teman-teman Palguna juga banyak bilang, gawat ya, kok banyak di antara kita tidak menjunjung hormat kepada beliau, Pak Wage Rudolf Supratman. Iya sih... Beliau pasti nggak punya pamrih pada waktu membuat gubahan Indonesia Raya itu. Tapi masak sih, kini kita yang menikmati negara ini bisa berdiri dibantu kekuatan persatuan lewat lagu itu, bisa cuek-cuek aja! Ya, paling tidak, harus ada lah, dari Pemerintah dan kita-kita sebagai rakyat, bisa membantu kesejahteraan nafkah anak-turunnya! Kemarin dulu kami lihat kok, tayangan dari tv cable, tentang peristiwa pemakaman Luciano Pavarotti, megah dengan pawai militer, dan seluruh rakyat negaranya penuh hormat khidmat, mengiringi jenazahnya disemayamkan. Bagi rakyat Italia, Luciano Pavarotti adalah pahlawan, karena membuat pamor baik negerinya dikenal dunia. Lha... Dia itu penyanyi. Pak Wage Rudolf Supratman kan komponis lagu kebangsaan kita! Kalau dulu beliau waktu dimakamkan tidak semegah Pavarotti, lha sekarang udah pantes, kalau anak-cucunya dibantu nafkah hidupnya dengan layak!”

Sugeng Waluya merangkul dan membelai kepala Palguna, sebagai tanda sayang dan bangga, akan adanya anak muda yang berjiwa ksatria dan berkebangsaan tinggi. Pada peristiwa pertemuan pagi ini, Tuhan Yang Maha Esa memperkenankan kami, melihat tumbuhnya tunas-tunas emas pepohonan cinta, di Jogjakarta.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2011 JogjaPenatahCinta.Com