Hampir setengah jam kami bercengkerama di beranda rumah eyang, canda gurau kami bersahut-sahutan, diiringi kicauan burung dari sudut ruangan beranda. Rupanya gelombang cinta kami menggerakkan cinta-cinta di sekitar kami, kepodang mungil di sangkarnya sedang asyik menampilkan dansa tarian balet dengan pasangannya sambil berkicauan. Bau wangian pandan bertingkah bersamaan dengan harumnya mawar yang merekah, bersekutu sapa, menegur ayu bebauan teh di depan mulutku, merasuki kami, semerbaklah pertemuan hari ini.

Beranda Rumah Eyang

Cinta itu memang sungguh megah tak bisa dicegah, perwujudan bahasa alam, serta nyata bukan khayalan yang kita reka gubah menurut kemauan kita. Cinta itu sudah ada sebelum segalanya ada, Dia Gusti Allah yang mewujudkan kekuasaan-Nya mencipta lelangitan, tanah datar, gunungan dan lembah, samudera lelautan, juga tumbuhan, hewan, segala sesuatu yang kasat mata dan yang tak kelihatan, serta citra tertinggi karya-Nya, yaitu manusia. Oleh karena begitu agung cinta Sang Cinta, Beliau merangkaikan semua karya cipta-Nya tadi, dengan rantai hembusan kasih-Nya yang bernama udara. Maka keseluruhan karya cipta Sang Mahakuasa, bergelar tata harmoni kehidupan.

Aku dan Mitha sering lupa, kalau pertemuanku dengannya di waktu lalu, bukanlah perkiraan perencanaan akal budi kami. Secara mutlak nyata dan alami, kami digiring untuk berjumpa hingga cinta bersemi.

"Galuh, kamu istirahat dulu deh. Nanti sore, barangkali kita bisa jalan-jalan keliling Jogja. Biasa, berburu gudeg!"
Kerling matanya berbinar, mencium mesra hatiku. Aku termangu menatapnya, mengangguk tersenyum menjawab isyarat perhatian cintanya.

Setelah mencuci Vespa-ku, ku segera mandi mencuci tubuhku, membasuh jiwaku sambil berdendang tembang lagu asmara dahana. Pancuran air di rumah eyang sudah tidak baru, tapi masih lancar memijatkan butir-butir air segar di sekujur ragaku, aku merasa lebih nyaman karena darah merdeka berselancar di nadi-nadiku, sebagai air hidup, yang mengalirkan berjuta laksa karunia yang menghidupkan aku hari ini. Bergegaslah aku untuk berbersih benah, mencanangkan celana dan kemeja baru, luwes dan nyaman menghiasi tubuhku, urat-uratku harus cukup istirahat supaya nanti senja, bisa membuat hati Mitha kesenangan girang di atas Vespa, berkeliling Jogja.

Di tengah kantuk, kenikmatan tubuhku yang rebah di ranjang jati tua, model Victoria jaman Belanda, sungguh kurasakan menambat para malaikat surga, rela bermain seruling, gambang, dan sitar di sekelilingku. Daya tarik ranjang kayu tua di mataku, membuatku cepat pulas tidur lelap, disangga jelita seni hasta karya dahulu kala.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com