Tak Pernah Sendiri Sepi, Bagian 8
Sering di tiap sore, aku bermain di taman bunga di belakang rumah dengan sahabat-sahabat kecilku, yang tengah beterbangan memainkan seruling, kecapi, dan genderang, mereka mengajari aku tentang tata keindahan musica sacra. Tata musik yang sungguh alami sekaligus surgawi, berbondong-bondong masuk ke dalam pengalaman batinku, seperti barisan tentara yang indah, agung, dan gagah maju bertempur, menggetarkan, juga meluluhkan bala keburukan. Pengalaman ini juga dialami ayahku ketika ia sibuk mencariku, ia melihat sendiri peristiwa yang kualami, sikap keperwiraan yang tengah memberi hormat kepada makna hidup, akurasa di genggaman pelukannya yang kekar memondongku, untuk masuk ke rumah, karena hari mau menjelang malam. Para sahabatku memandangi kami dengan penuh riang, tampil di permainan ansambel musik mereka, yang semarak merdu menggugah, mengantar kami pulang ke rumah. Benar-benar peristiwa itu sering kembali berulang, sampai saat ini, aku tidak pernah sendiri sepi dalam kesendirian.

Di alam tidurku, ragaku istirahat, namun rohku bekerja keras bersama berjuta roh-roh yang berkenan kupimpin mempersembahkan orkestra, yang membuat langit dan bumi memuji pada keindahan. Sudah menjadi keharusan, semua tata hidup, manusia dan bumi, serta lelangitan, juga bintang-bintang, matahari dan bulan, taat melaksanakan keindahan laku, karena harus menyembah kepada Raja seluruh semesta raya, sang sumber segala keindahan, tidak ada lain, Gusti Allah. Di dalam Keagungan pesona Gusti Allah, maka nyanyian pujian bergema di tiap surau, wihara, pura, klentheng, dan gereja, juga tempat tapa, bersama-sama mewatakkan keselarasan orkestra persembahan roh, jiwa, dan raga, untuk menyembah-Nya.
Suara gempita nyanyian pujian dari surau mengetuk pintu ragaku. Aku terbangun, lelahku sudah hilang, perasaanku sungguh riang, karena Sang Khalik selalu dimuliakan para insan, makhluk yang harus peka akan makna mengolah kehidupan. Ku beranjak dari tempat tidurku. Ranjang kayu yang tua itu sepertinya tengah bangga, karena karya ukiran jiwa yang membuatnya, menjadikannya layak mendapat pujian kekagumanku.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Tak Pernah Sendiri Sepi, Bagian 8
