"Galuh, terima kasih singkong goreng yang kausuguhkan, sungguh enak! Di mana kaubeli singkong ini?" Dia berujar tanya, sambil memainkan jari di helai-helai panjang rambutnya.

"Mas, kami tidak beli singkong itu, Pak Widagdo yang membawakannya dari kebun eyang di Sanden, Bantul. Di sana kami bertanam talas-talasan, ubi jalar, kacang tanah, kacang panjang, juga pisang jawa kepok. Kenapa, Mas, ada yang berkesan?"

Ketela pohon atau singkong

Dia menatapku lembut dan menusuk. Sinar matanya halus, mimik wajahnya teduh, amat menyatu dengan warna ungu pada bajunya yang bergambar tampilan tanda hati merah muda di tengah-tengahnya.

"Aku berkata kepadamu, bahwa makanan ini sungguh serupa dengan tubuhku. Dalam makanan ini, seluruh daya baik, dari unsur tanah dan air, yang mengikat juga menghantar daya cinta bumi jadi mempelai daya cinta matahari, dan dalam pesta perkawinan cinta bumi ditambat matahari, daya udara meniupkan pujian, dan ikut penuh cinta, membantu perayaan perkawinan ini. Pada pesta perkawinan agung ini, akar, batang, dan daun menyambut daya pesona perkawinan hidup cinta, mewujud dalam rupa makanan."

"Engkau, eyang, Mitha, dan saudara sekalian, termasuk aku, sesungguhnya serupa dan sama, dengan perayaan perkawinan semesta tadi, tidak seorang pun di antara kita yang bisa berperan sebagai diri sendiri dan menguasai dirinya sendiri. Barangsiapa yang sibuk melayani dirinya sendiri, ia tengah membuat ingkar terhadap dirinya sendiri, sebab seorang manusia akan terwujud, ketika sepasang hati yang dilanda cinta, memohonkan keinginannya melihat kelahiran manusia baru, dihaturkan sebagai persembahan permohonan, kepada daya yang lebih kuat dari matahari manapun, yaitu Gusti Allah. Maka, setiap orang adalah bagian rantaian keindahan berlian-berlian, yang melingkar menghiasi kecantikan bumi sang ibu pertiwi, yang juga merupakan mempelai dari buana semesta."

"Mitha, nampaknya kamu sudah lapar, bukankah tadi kamu cerita pingin banget makan gudeg? Yuk, kita jalan sama-sama!" Tak terduga ia berucap kata itu, Mitha, aku dan saudara-saudara serta eyang, saling berpandangan, berpantun isyarat dengan saling tersenyum simpul.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com