Pada perjalanan menuju warung gudeg Wijilan yang menjadi impian, kami terperangah melihat Ducati Cucciolo tahun 1955 yang dikemudikan Mas Sugeng Waluya, nampak lincah dan halus bunyi mesinnya. Orang-orang di Eropa biasa menyebutnya moped atau motor pedal, dahulu banyak jumlahnya di negeri kita ketika masih menjadi kegemaran cita rasa orang pada itu masa. Namun hari ini, pada senja yang temaram ini, moped yang sedang membawa tuannya, Mas Sugeng Waluya, menjadi pemandangan keabadian estetika bentuk rupa, tidak hanya fungsi guna. Nampak benar kekuatan karisma dari bentuknya yang mungil bermesin kecil, menampakkan kegagahannya karena terbuat dari besi hasil peleburan sempurna, dan kinetik kerja mesinnya kuat bertenaga meski cukup mini kapasitasnya, hanya 50cc saja.

Ducati Cucciolo 55cc vintage

Kami memasuki Plengkung Gading Kidul, lalu mengarah ke kanan, pelan berlenggang di jalan Langenarjan Kidul, yang diapit tembok benteng putih gading, dan di sebelah kiri tata bangunan perumahan Jawa-Eropa bersanding. scooter seolah ikut hening merasakan hatiku yang takjub melihat tingkah sinar bulan separuh bayang, membuat rerumahan tadi anggun masuk bertamu di hati, bagai sekumpulan senyum manis gadis-gadis mengkal remaja, berpakaian dandan Jawa. Aku dan Mitha terpingkal tawa, sebab Cuciollo Ducati menawan tak terperi, diarahkan mas Sugeng mengemudi, mematri hati muda-mudi yang tengah berpamer motor di malam hari. Gajah putihku tak kalah menambat mata rasa, mengkilaukan cahaya lampu yang berpapasan, maka kami jadi magnet menarik dunia pandang, malam hari ini. Di jalan Gamelan, permukaannya banyak bergelombang, moped Mas Sugeng luwes melanglang. Di atas scooter menari lenggang, aku dan Mitha bertembang dendang, lagu tentang asmara bernyanyi riang. Di belakang kami, Citroën 2CV yang menatang saudara-saudara kecintaan dan eyang, menganyam pukau mata orang. Lorong jalan menuju tempat kami mau makan, bertabur wewangian karya budaya silam, di banyak indah ketetapan mata memandang bangunan tua, tegar menantang jaman.

Citroen CV2 vintage car

Pada antik sebuah rumah warung gudeg Wijilan, kendaraan kami masuk ke dalam kekuatan asri tata bangunan silam. Harumnya gudeg Wijilan membuat kemanusiaan kami, ingin nikmat merasakan nyamannya rasa tertata dari makanan jawa ini. Pasti akan banyak cerita berantai yang akan kami dengar di dalam benak kami masing-masing, tentang keunikan cita rasa jati diri masakan jawa Jogja.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com