Keabadian Karya Cinta, Bagian 11

Kami memasuki Plengkung Gading Kidul, lalu mengarah ke kanan, pelan berlenggang di jalan Langenarjan Kidul, yang diapit tembok benteng putih gading, dan di sebelah kiri tata bangunan perumahan Jawa-Eropa bersanding. scooter seolah ikut hening merasakan hatiku yang takjub melihat tingkah sinar bulan separuh bayang, membuat rerumahan tadi anggun masuk bertamu di hati, bagai sekumpulan senyum manis gadis-gadis mengkal remaja, berpakaian dandan Jawa. Aku dan Mitha terpingkal tawa, sebab Cuciollo Ducati menawan tak terperi, diarahkan mas Sugeng mengemudi, mematri hati muda-mudi yang tengah berpamer motor di malam hari. Gajah putihku tak kalah menambat mata rasa, mengkilaukan cahaya lampu yang berpapasan, maka kami jadi magnet menarik dunia pandang, malam hari ini. Di jalan Gamelan, permukaannya banyak bergelombang, moped Mas Sugeng luwes melanglang. Di atas scooter menari lenggang, aku dan Mitha bertembang dendang, lagu tentang asmara bernyanyi riang. Di belakang kami, Citroën 2CV yang menatang saudara-saudara kecintaan dan eyang, menganyam pukau mata orang. Lorong jalan menuju tempat kami mau makan, bertabur wewangian karya budaya silam, di banyak indah ketetapan mata memandang bangunan tua, tegar menantang jaman.

Pada antik sebuah rumah warung gudeg Wijilan, kendaraan kami masuk ke dalam kekuatan asri tata bangunan silam. Harumnya gudeg Wijilan membuat kemanusiaan kami, ingin nikmat merasakan nyamannya rasa tertata dari makanan jawa ini. Pasti akan banyak cerita berantai yang akan kami dengar di dalam benak kami masing-masing, tentang keunikan cita rasa jati diri masakan jawa Jogja.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Keabadian Karya Cinta, Bagian 11


