Alaminya Cinta Menata Rupa, Bagian 12

Pada rindu itu, semu manisnya gudeg nangka muda, bagai ulah bocah-bocah bertarian lincah bertembang dolanan di permukaan lidah kami. Oporan krecek dengan rerawitan cabai bergendang rampak, bekerjasama meningkahi ramai gendhing karawitan, di rasa cita gurihnya coklat telur berteman baceman tahu dan terik tempe, membuai lantaian lidah, dibantu rasa buaian nasi. Masing-masing wajah kami, unik sendiri-sendiri menampilkan kenyamanan di tiap jiwa, terwujud alami menata rupa.
Sekarang mulai kupahami mengapa makanan itu serupa tubuh, ada berbagai unsur dari macam kalsium, besi, mangaan, zinc, juga emas, dan ada pula gegulaan, keasaman, serta gegaraman. Makanan dan tubuh kita sama rupa, bentuk kecil dari bumi. Oleh karena itu, kita tengah penuh daya bekerja, ketika dengan sarat cinta menjaga bumi. Kita sedang menyadari bahwa kita berasal dari bumi dan kembali ke bumi secara badani, lalu roh kita akan kembali pulang dengan santun, menghadap Sang Maha Roh, Allah sendiri. Dalam ketidaksempurnaan pemahaman, bahwa kita sering keliru memahami bumi, kita sedang mengakui kalau memang kita membutuhkan Matahari dari segala matahari, Raja semesta alam, yaitu Gusti Allah.
Pertemuan dalam perjamuan makan malam ini, eyang, Mitha, aku - Galuh, Mas Sugeng Waluya, lima saudara Mitha yang disusul gabung empat orang teman mereka, jadi pesta kegembiraan. Kelima saudara Mitha adalah Guntur Sasmita, Johan Tri Wahyu, Sela Widhi Astana, Tata Widharta, dan Cakra Prasetya. Keempat teman mereka bernama Warta Pamarta, Kenya Maryati Dewi, Adhi Senopati, dan Winata Kajengan.

Sambil minum teh dari poci, adonan tanpa ragi dari apem beras murni, maju unjuk sembah, tandanya undur diri tata perjamuan malam ini. Kami saling bersalaman bergengaman tangan, jiwa dan hati utuh berkenalan.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Alaminya Cinta Menata Rupa, Bagian 12


