Cinta pada seorang laki-laki dan perempuan tak pernah berganti, sudah tak terhitung dengan segala daya nalar pikir seluruh insan bumi. Seperti pagi yang mengawali hari di bumi, selalu lahir di tiap masa tanpa henti. Kelahiran pagi, lambang munculnya cinta tumbuh seiring kembangan melati, juga bebungaan mawar, dikukuhkan matahari menyibak tirai kabut bumi kekasihnya, dengan hangat kecupan sinarnya pada tanah, bumi pagi. Cinta lelaki juga laksana danau berlimpah air, membiarkan anak-anak itik berenang di kesejukannya, yang berwujud gagah cinta lelaki merengkuh lindung cinta seorang gadis.

Di mana kamu kekasihku, yang tinggal kini hanyalah potretmu. Pias, muram, lekat di dinding kamar, di tua rumahku, di Jogja. Di ruang tamu, pendapa kayu, gerak tingkahmu, mewujud selalu, menghadirkan kesedihan yang dalam, menarikan lara duka. Syair itu begitu kuat, berpilin hatiku di nyanyian merdu Mas Sugeng Waluya. Ruang beranda rumah eyang, seolah ikut temaram, dengan redup nyala lampu minyak di tiang beranda. Sambil menyanyi penuh rasa, Mas Sugeng membaca lembaran helai partitur di sudut meja, dekat vas berisi rose merah muda. Lanjutan syair pada refrain lagu itu, menuturkan betapa cintanya selalu setia berdandan, untuk menyambut kekasihnya pulang ke agung kota Jogja.

Aku lihat wajahnya teduh bersahaja, di matanya nampak kerinduan pada kekasihnya, seperti pemandangan laut sedang tidur tenang dinaungi cahaya purnama, gemerlapan memantulkan rindu. Dengan hati-hati aku bertanya kepadanya.
“Maaf, Mas, lagu itu komposisi siapa?”
Dengan hangat suara baritonnya, ia berkata.
“Galuh, komposisi ini kubuat dengan gerak hatiku, bertahun lalu. Banyak cerita lagi tentang cintaku di kumpulan warna gubahan musik cintaku. Kamu ingin dengar? Akan kulantunkan, Galuh!”

Dengan tersenyum sipu, aku malu mengakui bahwa aku larut dalam kisah lagu cintanya. Ternyata himpunan gubahan komposisi lagu, yang dituliskannya, amat halus dan kaya musikalitas cita rasa. Melodi dan syairnya menyatu, nada yang naik-turun menala syair, menggerakkan kepakan sayap cinta, terbang menambat jiwa. Seluruh rangkaian ragam komposisi itu, berpadu mengguratkan nama, Jogja Penatah Cinta.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com