Cinta Terindah di Jogja, Bagian 13
Di mana kamu kekasihku, yang tinggal kini hanyalah potretmu. Pias, muram, lekat di dinding kamar, di tua rumahku, di Jogja. Di ruang tamu, pendapa kayu, gerak tingkahmu, mewujud selalu, menghadirkan kesedihan yang dalam, menarikan lara duka. Syair itu begitu kuat, berpilin hatiku di nyanyian merdu Mas Sugeng Waluya. Ruang beranda rumah eyang, seolah ikut temaram, dengan redup nyala lampu minyak di tiang beranda. Sambil menyanyi penuh rasa, Mas Sugeng membaca lembaran helai partitur di sudut meja, dekat vas berisi rose merah muda. Lanjutan syair pada refrain lagu itu, menuturkan betapa cintanya selalu setia berdandan, untuk menyambut kekasihnya pulang ke agung kota Jogja.
Aku lihat wajahnya teduh bersahaja, di matanya nampak kerinduan pada kekasihnya, seperti pemandangan laut sedang tidur tenang dinaungi cahaya purnama, gemerlapan memantulkan rindu. Dengan hati-hati aku bertanya kepadanya.
“Maaf, Mas, lagu itu komposisi siapa?”
Dengan hangat suara baritonnya, ia berkata.
“Galuh, komposisi ini kubuat dengan gerak hatiku, bertahun lalu. Banyak cerita lagi tentang cintaku di kumpulan warna gubahan musik cintaku. Kamu ingin dengar? Akan kulantunkan, Galuh!”
Dengan tersenyum sipu, aku malu mengakui bahwa aku larut dalam kisah lagu cintanya. Ternyata himpunan gubahan komposisi lagu, yang dituliskannya, amat halus dan kaya musikalitas cita rasa. Melodi dan syairnya menyatu, nada yang naik-turun menala syair, menggerakkan kepakan sayap cinta, terbang menambat jiwa. Seluruh rangkaian ragam komposisi itu, berpadu mengguratkan nama, Jogja Penatah Cinta.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Sebarkan ke Dunia
Urutan Tata Guratan
-
Cinta Terindah di Jogja, Bagian 13


