Pisang goreng manis dan kenyal yang disuguhkan eyang, melontarkan keterbatasan jarak, terlempar pental dari antara kami. Rasa nikmat yang alami dari makanan ini, membuat pembicaran kami, mengenai keindahan yang memukau dari tiap karya seni, jadi luwes tata kata berbincang, mengenai karya cipta Sabda Langit, pada gubahan para seniman sejati. Hasil karya gubahan para sejati seniman, selalu layak menjadi raja yang menduduki dampar kencana, singgasana kehormatan, yang terbuat dari hati para insani. Banyak nyata, monumen kekaguman atas agung, keindahan karya seni Sabda Langit, menjadi legenda kenangan di jiwa manusia se-dunia. Keindahan agung tatahan Sabda Langit, dikagumi jiwa sejati para seniman, dan mereka menanggapinya dengan semangat kecintaan tak bersyarat kepada-Nya. Karya lukisan tatah di Borobudur, rancang gubah Michaelangelo, lukisan Raden Saleh, seni hasta warna Leonardo da Vinci, tata lagu Ki Nartasabdha, musik komposisi Johann Sebastian Bach, dan banyak lagi nama penggubah seni. Karya-karya gubahan tadi, menjadi kenangan kekaguman se-dunia hati manusia, karena menampilkan kemutlakan Sang Mahadaya Hidup, sungguh alami dinyatakan. Gubahan para seniman tadi, tiada satu pun yang mampu sempurna, justru di situlah nampak kesempurnaan rencana Gusti Allah, supaya semua jiwa bersimpuh menyembah kepada-Nya.



Cucciolo Ducati mulai dibelai tangan Mas Sugeng Waluya, sembari ia berkata, "Wah, malam sudah larut. Alangkah baiknya kalau esok kita lanjutkan pembicaraan. Terima kasih buat semuanya, kalian telah berbaik hati kepadaku. Aku sungguh bahagia, karena biasanya cuma jadi pengelana tanpa teman. Selamat malam, doaku menyertai kalian semua!"

Eyang dan Mitha berurai air mata. Sungguh hari ini mengharukan hati mereka, juga kami, oleh tuturan cerita kehidupan ,yang ia suguhkan dengan kebijaksanaan rasa hati serta tata budi. Tampak kewibawaannya, ketika ia menapakkan dirinya pada sadel Cucciolo Ducati yang tua, melentur tubuhnya, memantaskan genggaman tangannya di setang kemudi mopednya. Pengemudi dan sepeda bermotor yang dikendarainya, sangat berkesan sopan beranjak dari pelataran rumah eyang. Semua perasaan haru di hati kami, menghantar kepergiaannya dengan uluk salam di sikap tangan kami. Sambil mata kami mengikuti ia pergi, eyang bercerita bahwa tanpa pertolongan orang ini, eyang pasti sudah celaka diterjang sepeda motor di jalanan. Ketika itu, hari sudah larut malam, di rumah, eyang sendirian, ingin membeli kopi untuk persediaan. Dengan tubuhnya yang renta, mau menyeberang jalan, Sugeng Waluya berhenti dan turun dari mopednya. Dengan halus sabar, menuntun eyang kami ke seberang. Demikian pula sesudah eyang mendapatkan kopi itu, dia dengan halus dan sopan, menggandeng tangan eyang dan menghantarkannya sampai rumah eyang.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com