Keindahan Agung Tatahan Cinta, Bagian 14

Cucciolo Ducati mulai dibelai tangan Mas Sugeng Waluya, sembari ia berkata, "Wah, malam sudah larut. Alangkah baiknya kalau esok kita lanjutkan pembicaraan. Terima kasih buat semuanya, kalian telah berbaik hati kepadaku. Aku sungguh bahagia, karena biasanya cuma jadi pengelana tanpa teman. Selamat malam, doaku menyertai kalian semua!"
Eyang dan Mitha berurai air mata. Sungguh hari ini mengharukan hati mereka, juga kami, oleh tuturan cerita kehidupan ,yang ia suguhkan dengan kebijaksanaan rasa hati serta tata budi. Tampak kewibawaannya, ketika ia menapakkan dirinya pada sadel Cucciolo Ducati yang tua, melentur tubuhnya, memantaskan genggaman tangannya di setang kemudi mopednya. Pengemudi dan sepeda bermotor yang dikendarainya, sangat berkesan sopan beranjak dari pelataran rumah eyang. Semua perasaan haru di hati kami, menghantar kepergiaannya dengan uluk salam di sikap tangan kami. Sambil mata kami mengikuti ia pergi, eyang bercerita bahwa tanpa pertolongan orang ini, eyang pasti sudah celaka diterjang sepeda motor di jalanan. Ketika itu, hari sudah larut malam, di rumah, eyang sendirian, ingin membeli kopi untuk persediaan. Dengan tubuhnya yang renta, mau menyeberang jalan, Sugeng Waluya berhenti dan turun dari mopednya. Dengan halus sabar, menuntun eyang kami ke seberang. Demikian pula sesudah eyang mendapatkan kopi itu, dia dengan halus dan sopan, menggandeng tangan eyang dan menghantarkannya sampai rumah eyang.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Keindahan Agung Tatahan Cinta, Bagian 14
