Bertambahlah malam larut temaram, sinar bulan separuh bayang meluncurkan anak-anak panah, kuat merobek singkap tabir yang menyembunyikan banyak tanya jiwaku. Aku bertanya tentang nama setelah satu bulan kelahiranku, juga tambahan nama masa remajaku, mengapa aku diajar mengakui ketaksempurnaanku, bagaimana aku dididik bertamu bersama teman-teman, datang di perjamuan pesta, ditata memahami persatuan cinta seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Ternyata, ketika tersingkap tabir itu, kini baru aku tahu, bahwa aku diajak seluas mungkin memahami makna hidup, walau tak bisa paham sepenuh kalbu. Hanya sedikit yang bisa aku tangkap, yaitu aku harus mengakui bahwa aku sungguh tidak sempurna di hadapan Gusti Allah, walau selalu berusaha untuk menghormati bumi dan berbuat bajik kepada segenap makhluk, juga manusia. Yang bisa aku mengerti adalah, aku tidak bisa menghidupi diriku sendiri, aku hidup karena kemurahan Mahakarya Ilahi, yaitu hidup itu sendiri, dan menjalani hidup dengan bekerjasama, serta menghargai kekuatan hidup pada setiap orang di sekitar. Dan juga menghormati tanam-tanaman, beragam hewan, serta harus selalu mencinta tanah bumi ini.

Aku teringat Tita, sahabatku, yang menitipkan baju-baju bermotif batik tulis, yang ia kerjakan dengan tangannya sendiri, berusaha mengguritkan keindahan gerak rasanya, bunga-bunga jiwanya, di atas lentur katun dan sutra. Kata eyangku, Tita sudah mengantarkan baju-baju bertulis batik itu sekitar empat minggu lalu, ditandai dengan langit malam ini, dihadiri bulan separuh bayang, melirik ke dalam hati. Perasaanku tergelitik, hatiku dipacu menelisik, rasa ingin tahu sepoi membisik bersama angin, halus menghembus kepalaku, dituntunlah aku membuka pintu ruang batik, karena ingin menilik.

Namaku Galuh Arjuna Indra Putra, nama kecilku Galuh, nama remajaku Arjuna Indra Putra. Aku suka dengan nama itu, membuat aku nyaman untuk bisa berusaha gagah dan menawan, tampil apa adanya dengan ketaksempurnaanku sebagai manusia. Seperti juga malam ini, dengan kebodohanku, berusahalah aku mencari keindahan batik tulis Tita, yang mewujud apik di dalam baju-baju jahitannya. Kunyalakan lampu ruang, karya bebatikan itu nampak anggun di sudut mata memandang, rasaku berkembang dendang untuk membeli sepasang, sebagai persembahan sayang bagi Mitha seorang.



Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com