Tanda Sayang Surga Cinta, Bagian 16
Seperti malam ini, waktu jiwa dan ragaku ingin segera tidur, suara-suara nyanyian bersahutan mendatangiku, sahabat-sahabat dari masa kecilku dengan aura yang terang di tiap wajah mereka, saling tersenyum dan mengerjap mata kepadaku. Secara bergiliran, mereka menyampaikan pesan dalam nyanyian, bahwa sudah saatnya bagiku menampilkan orkestra agung, mengiringi Sugeng Waluya tegakkan karya-karyanya.
"Esok pagi akan datang kepada Tuan, seseorang gadis yang kaya pesona, memberi Tuan kembang-kembang cinta. Sambutlah dan terimalah, karena itu tanda barisan tambur, genderang, dan terompet lelangitan, memimpin hati yang tak pernah pantas, menghaturkan sembah kepada Raja Tahta Keindahan."
Aku termenung menatap mereka, inilah bentuk salah satu dari keseluruhan hukum peristiwa alam. Tidak ada yang mustahil, bukankah surga, semesta lelangitan, dan bumi adalah luas kekuasaan hukum wilayah Gusti Allah. Tak lama kemudian, sambil menampilkan senyum dan uluk salam, mereka terbang menembus langit-langit kamar dan menghilang, namun heharuman ribuan kembang merekah mawar, disajikan sebagai tanda sayang. Bulan yang tadi temaram, pada kesempatan ini, jadi tampil benderang penuh bundar cahaya, luruh di wajahku, tenanglah batin, aku tidur pulas bagai beralas satin tenunan surga. Jiwa ragaku tidur, namun rohku berjaga, di sekeliling tempatku, semua sudut rumah eyang ternyata dijaga ketat bala tentara langit yang tak bisa dikalahkan kekuatan mana pun, hanya patuh pada Penguasa Tunggal Surga itu sendiri.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Sebarkan ke Dunia
Urutan Tata Guratan
-
Tanda Sayang Surga Cinta, Bagian 16


