Pada ranjang klasik dari jati tua yang cantik, sejuk kamar tidur, karena udara baru, mudah bertegur dengan hawa lama di situ. Maka terjadilah peran tugas berganti, sukarela hawa lama berjalan ke luar kamar. Tata bangunan tua, apik menyelenggarakan peredaran suasana. Di rumah ini, tidak ada perekayasaan pengatur suhu, siang dan malam menjadi enak menyejukkan, karena estetika berlogika terancang tepat guna pada rumah tropis gaya Belanda. Aku sungguh kagum atas hebatnya karya para jiwa menusia, yang hidup di silam masa. Mereka benar-benar belajar memahami alam dan menghormati hukum alam, supaya dalam berpikiran mewujudkan karya, nyata menggambarkan, bahwa mereka adalah bagian dari alam. Di kamar ini, aku mentertawakan diri, sering aku jadi palupi (paras lucu pikiran), karena sebagai anak yang tumbuh di kota besar, sering kali salah menterjemahkan bahasa alam, dan tidak tahu diriku sesungguhnya bagian dari keseluruhan hukum peristiwa alam.
Seperti malam ini, waktu jiwa dan ragaku ingin segera tidur, suara-suara nyanyian bersahutan mendatangiku, sahabat-sahabat dari masa kecilku dengan aura yang terang di tiap wajah mereka, saling tersenyum dan mengerjap mata kepadaku. Secara bergiliran, mereka menyampaikan pesan dalam nyanyian, bahwa sudah saatnya bagiku menampilkan orkestra agung, mengiringi Sugeng Waluya tegakkan karya-karyanya.
"Esok pagi akan datang kepada Tuan, seseorang gadis yang kaya pesona, memberi Tuan kembang-kembang cinta. Sambutlah dan terimalah, karena itu tanda barisan tambur, genderang, dan terompet lelangitan, memimpin hati yang tak pernah pantas, menghaturkan sembah kepada Raja Tahta Keindahan."

Aku termenung menatap mereka, inilah bentuk salah satu dari keseluruhan hukum peristiwa alam. Tidak ada yang mustahil, bukankah surga, semesta lelangitan, dan bumi adalah luas kekuasaan hukum wilayah Gusti Allah? Tak lama kemudian, sambil menampilkan senyum dan uluk salam, mereka terbang menembus langit-langit kamar dan menghilang, namun heharuman ribuan kembang merekah mawar, disajikan sebagai tanda sayang. Bulan yang tadi temaram, pada kesempatan ini, jadi tampil benderang penuh bundar cahaya, luruh di wajahku, tenanglah bathin, aku tidur pulas bagai beralas satin tenunan surga. Jiwa ragaku tidur, namun rohku berjaga, di sekeliling tempatku, semua sudut rumah eyang ternyata dijaga ketat bala tentara langit yang tak bisa dikalahkan kekuatan mana pun, hanya patuh pada Penguasa Tunggal Surga itu sendiri.
Bersambung...Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009
JogjaPenatahCinta.Com