Sang Cinta, Mataharinya Merdeka, Bagian 17

Kemerdekaan beramai sorak gegap gempita, bergaung alun, bersahut-sahutan, mengombak-ombak gabungan himpunan hitungan tanpa batas, rasa syukur yang berenang ke pantai hidup kebahagiaan. Aku bahagia, ketika menyadari bahwa hidup kudapat tanpa membeli, jiwa dan ragaku ada padaku bukan karena kubuat sendiri. Satu kenyataan yang pasti, oleh karena daya hidup diberikan padaku, aku bisa hidup berkarya, kekayaan jiwa serta harta datang mengikuti untuk mengabdi. Oleh karena itu, aku merdeka karena tak pernah kehilangan diri, sebab aku hanyalah bagian terkait dari tata hidup bersama lain manusia, yang harus bersama bekerja, untuk mempersembahkan seutuh mampu karya, kepada Raja segala daya, Allah sendiri. Setiap hari aku merayakan pesta hari kemerdekaan kebangsaanku, dengan sederhana cara, kusajikan kemampuanku, yang sesungguhnya sudah dirancang Sabda Langit, sejak di rahim ibu aku dipingit. Aku lahir dengan merdeka, sebab boleh terwujud di tanah Nusantara, dimana selayaknya aku dan para saudara sebangsa, menggarap olah tanah persada, karena tanah ini bumi yang sempurna dicipta, untuk kita beroleh limpah panenan kejayaan, di tiap hasil karya bersama selaku bangsa. Gusti Allah sendiri yang sempurna, merancangkan kebangkitan semangat perjuangan di era empat puluh lima. Maka seluruh manusia Nusantara, dalam berbagai watak karunia, sebagai raja, ahli ketentaraan, ahli perundingan, ahli pertanian, ahli tetembangan, ahli sosial budaya, dan bermacam para agung ahli lainnya, melebur dalam satu bejana ikrar, menjamukan kebersamaan, dinyatakan dengan meraih rengkuh kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Sang Cinta, Mataharinya Merdeka, Bagian 17
