Aku hisap wangi asap tembakau, pukau rasa tanah Jawa bertaburan, mendupai bait pemujaan di perasaan jiwa. Dengan lepas merdeka, legaku berlarian bersama hembusan asap harum, tembakau Tegal Arum, yang tuntas diolah dengan sikap ranum santun. Lalu tiap tegukan teh poci tanah, membuat aku terperangah, cantik semerbak rasa teh didamping lembut keayuan bau melati, berbalut dandan manis coklat gula batu, membuat ini pagi jadi riang berbunga bingah. Aku, Arjuna Indra Putra, terpanah tak berdaya oleh cinta Mitha, berbusur madah kepada Allah, dirupakan dalam teh melati, diseduh di poci tanah.

Gadis manis, Mithaku, sungguh dia menarik, di tiap senyum sapanya, syair, liris prosa pujian dunia kepada tanah Jawa, anggun berlarik-larik baris. Kekagumanku padanya, seiring dengan pandainya ia lantunkan nyanyian klasik komposisi Eropa, setara dengan pintarnya ia menggetarkan hatiku, karena indah berkidung Padupan Kencana, berukir tatanan sastra Jawa.

Pagi ini, perempuanku bercelana Dolce & Gabbana, jeans biru, menahtakan kemeja tulis batikan corak Jawa-China, luwes gemes saling menuntun kehadiran gadis Jogja, ayu jadinya. Kemerdekaan kami selaku bangsa, disambut hangat pagi disinari matahari, adalah rangkaian bertautnya sendratari budaya, di wajah dunia bumi. Aku, juga Mitha, menghargai keindahan seni agung musik Austria Eropa, selaku kami menghormati karawitan Ngayogyakarta, yang kuat bertahta, mendidik budi pekerti di diri kami, meraja. Sang Maha Seniman berkarya maha tak terperi, di aneka budaya terciptalah karya-Nya yang maha seni, setiap bangsa adalah uniknya seni, karya Allah Maha Suci.

Lembah gunung Dieng

Bahkan di tiap wilayah kenegaraan, dataran tinggi, lembah, serta tanah datar, mempunyai tata susun unsur ketanahan berbeda tidak sama, mewartakan bahwa Sang Cinta berkuasa adhi mulya. Sudah menjadi catatan dunia sejarah bumi, pepadian tanah Jawa amat pulen serta gurih ketika dikunyah, maka kerianganlah lidah mengecap rasa, dan tubuh berbahagia diberi anugerah kandungan faedah sari makanan alami, kaya susunan gizi dari tanah pertiwi yang tak bisa dibeli. Seperti juga manusia di bumi Jawa, diberikan keunikan tata rasa, gubahan pikir, cara berlaku tingkah, merupakan wujud nyata rendaan kehendak Sang Maha Cinta, yang disulam penuh kebijaksanaan-Nya. Siapa pun yang berkenan Ia rancang cipta untuk lahir di bumi Jawa, apa pun keturunan darah asalnya, akan kawin dengan kehendak-Nya yang mutlak alami dan nyata, dihadirkan pada budaya dan kesuburan tanah Jawa. Sepatutnya, aku dan Mitha, mengabdi dan patuh kepada karya welas asih-Nya di tanah Jawa, seperti pantasnya kami memahami keindahan tanah seberang beserta budayanya. Maka, kita sungguh menjadi makhluk manusia sebagai bangsa merdeka, ketika dengan lantang rasa syukur atas tanah dan budaya, diikrarkan berkumandang menyanyikan Indonesia Raya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com